GUBERNUR KALSEL APRESIASI PENINGKATAN INDUSTRI BISNIS KARET DI BANUA

Penulis 12 February 2020 Berita 793 Views

Kegiatan Pertemuan bersama UPPB Kalsel yang dihadiri oleh Dirjen Kementerian Perkebunan dan Peternakan RI, M. Ichwan menjadi pemateri dalam sektor pembiayaan bidang perkebunan.

BANJAR – Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor, sangat mengapresiasi dalam perkembangan kualitas produk industri karet di wilayah Kalimantan Selatan, baik secara global, lingkungan ataupun peningkatan ekonomi masyarakatnya.

Peserta musyawarah UPPB Kalsel yang dihadiri sejumlah SKPD dilingkup Provinsi Kalsel serta para petani karet di 13 Kabupaten/Kota.

Menurut Sahbirin Noor, dari 80 persen industri yang bergerak di Kalimantan Selatan, mulai dari sektor pengembang industri perikanan, pertambangan hingga perkebunan. Potensi besar serta peluang bisnis yang menjanjikan di wilayahnya saat ini, yakni industri perkebunan dibidang pengolahan karet dengan capaian persentase 60 persen.

“Selain ramah lingkungan dan dapat menghasilkan kesejahteraan, pohon karet juga dapat memberikan sejuta manfaat bagi manusia, contohnya saja oksigen dan memberikan rasa sejuk serta pohon karet juga cepat menyerap air agar tidak terjadi bencana banjir,” tutur Paman Birin, sapaan akrab Gubernur Kalsel saat menghadiri kegiatan pertemuan musyawarah UPPB se Kalsel, di taman wisata alam Kiram Park, Karang Intan, Banjar, Selasa (11/2).

Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor (tengah), saat memberikan informasi tentang produksi karet di Kalsel dalam persaingan pasar global, dengan didampingi Kadis Bunak Kalsel (kiri), Suparmi, di lokasi wisata alam Kiram Park, Selasa (11/7).

Kemudian, lanjut Paman Birin menyebutkan, dalam industri karet walaupun saat ini ada beberapa wilayah provinsi yang terkena dampak turunnya harga, namun, di Kalsel daya saing dan harga masih normal dari Rp15.000 hingga Rp16.000 perkilonya.

“Jadi, Kalsel saat ini masih bersyukur dengan adanya Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) yang dikelola secara langsung oleh Pemerintah Provinsi melalui Dinas Pekebunan dan Peternakan (Disbunak) Kalsel setidaknya sudah mulai memberikan kontribusi yang cukup bagi petani karet di wilayah Kalimantan Selatan,” jelas Paman Birin.

Kendati demikian, Paman Birin menginginkan, agar prestasi para petani karet terus ditingkatkan dengan tetap mempertahankan harga karet tersebut, bahkan Ia berharap, dari usaha yang digeluti oleh mereka dapat meningkatkan kesejahteraan dengan lebih maksimal agar kedepannya, baik itu usaha ataupun kerjasama antar Pemerintah bisa lebih bersinergi.

“Dengan persaingan ekspor impor saat ini baik Amerika dan China, mau tidak mau, Kalsel harus sadar bahwa Indonesia sudah mulai dilirik oleh pasar bisnis global, yakni bisnis karet ini, dari 80 persen didominasi oleh beberapa industri yang ramah lingkungan sedangkan 20 persennya hanya pertambangan. Terbukti, industri ini tidak akan habis dan berpotensi besar untuk ekonomi kita semua,” ungkap Gubernur Kalsel.

Sementara itu, hal sama juga diungkapkan oleh Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Selatan, Suparmi. Ia menuturkan, dalam industri karet pada 2020 ini sangat menjanjikan.

Bagaimana tidak, untuk menjawab hal tersebut Ia memaparkan, untuk menjamin serta memudahkan para petani karet dalam menjalankan usahanya yang langsung dinaungi UPPB masing-masing wilayah, mereka akan diberikan sertifikasi oleh Pemerintah Provinsi Kalsel agar dengan tujuan dapat memperlihatkan kualitas produk pengolahan karet tersebut tidak diragukan lagi.

“Nanti setiap pengelolaan bisnis karet di Kalsel akan kami sertifikasi agar tujuannya bukan hanya kualitas karet di Kalsel bagus tapi ini bisa jadi contoh diseluruh Indonesia,” ucap Suparmi.

Selain itu, Suparmi mengungkapkan, industri karet yang ada di 13 Kabupaten/Kota sekarang ini sudah memiliki 11 parbrik yang dinaungi langsung secara legal oleh UPPB dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, maka, pada 2020 ini, dirinya juga menjamin untuk harga akan tetap normal walaupun saat ini ekspor karet ke China stoknya harus dibatasi akibat permasalahan virus corona dinegara tersebut masih dianggap sangat serius, guna menghindarinya, terpaksa pihak Pemerintah Kalsel harus melakukan pembatasan.

“Untuk saat ini karena melihat faktor corona di China, ekspor di wilayah tersebut hanya dibatasi saja. Akan tetapi, harga karet masih tetap normal berkisar dari Rp15.000an,” pungkas Suparmi. (RHS/RDM/RHD)

 

Sumber : abdipersadafm

 

Pencarian

Kategori

Berita
Daerah

Berita Terpopuler

Goverment Public Relations