Gubernur Minta TPID Jaga Inflasi Kalsel

Banjarmasin - Inflasi yang tinggi menjadi salah satu permaslaahan dalam ekonomi, karena selain dpaat mengurangi daya beli masyarakat dan menciptakan ketidakpastian dalam perekonomian juga dapat menghambat investasi dan menurunkan daya saing produk dalam negeri.

Untuk itulah Gubernur Kalimantan Selatan H Sahbirin Noor meminta Tim Pengendali Inflasi Daerah untuk dapat menjaga inflasi di Kalsel dengan meminimalkan gangguang dari sisi pasokan dan distribusi barang yang merupakan sumber utama tingginya inflasi daerah.

Selain itu juga dengan meminimalkan tekanan inflasi yang diakibatkan olehdampak administered prices di daerah dan membentuk eksprtasi inflasi masyarakat di daerah melalui program sosialisasi dan diseminasi di media, sehingga dpaat mengarahkan pada sasaran inflasi yang ditetapkan sebelumnya.

"Tentunya hal ini tidak lepas dari jerih payah dan kerja keras dari saudara, untuk menciptakan dan mengarahkan inflasi Kalsel sesuai dengan harapan," Kata Gubernur saat membuka Rakorda TPID Semester II 2016 di Bank Indonesia, Rabu, (14/12).

Sementara itu Kepala Perwakilan Bank Indonesia Harrymurti Gunawan menerangka peran TPID sangat bermanfaat, ini dilihat dari angka inflasi yang mampu di jaga dengan baik yaitu pada 2013 tercatat 8,56 % kemudian menurun pada 2014 menjadi 7,28% dan semakin rendah pada tahun 2015 menjadi 5,14%.

Tren menurun masih dirasakan pada september 2016 yaitu tercatat 0,07 mtm. Sedangkan jika dibandingkan dengan nasional, inflasi di Kalsel tercatat lebih tinggi dimana inflasi nasional pada september 2016 tercatat sebesar 3,07% yoy.

Ditambahkannya, Kedepan TPID perlu berpedoman pada suatu roadmap yang telah disusun dengan memuat tahapan-tahapan pengendalian inflasi yang diarahkan ke pencapaian yang semakin rendah dan stabil.

Untuk itu Rakorda ini merupakan lmomentum yang tepat untuk membahas roadmap inflasi di kalsel untuk menyambut 2017. (dnr/kh)

(Sumber : Newsroom Biro Humas Setdaprov Kalsel edisi Jum`at, 16 Desember 2016)

Share