Islam dan Kemajuan Teknologi Komunikasi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kemajuan sains dan teknologi telah memberikan kemudahan-kemudahan dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua sosok yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ilmu adalah sumber teknologi yang mampu memberikan kemungkinan munculnya berbagai penemuan rekayasa dan ide-ide. Adapun teknologi adalah terapan atau aplikasi dari ilmu yang dapat ditunjukkan dalam hasil nyata yang lebih canggih dan dapat mendorong manusia untuk berkembang lebih maju lagi. Sebagai umat Islam kita harus menyadari bahwa dasar-dasar filosofis untuk mengembangkan ilmu dan teknologi itu bisa dikaji dan digali dalam Al-quran, sebab kitab suci ini banyak mengupas keterangan-keterangan mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dari keterangan itu jelas sekali bahwa manusia dituntut untuk berbuat sesuatu dengan sarana teknologi. Sehingga tidak mengherankan jika abad ke-7 M telah banyak lahir pemikir Islam yang tangguh produktif dan inovatif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi sangat disayangkan bahwa kemajuan-kemajuan itu tidak sempat ditindaklanjuti dengan sebaik-baiknya sehingga tanpa sadar umat Islam akhirnya melepaskan kepeloporannya. Lalu bangsa Barat dengan mudah mengambil dan mentransfer ilmu dan teknologi yang dimiliki dunia Islam dan dengan mudah pula mereka membelenggu para pemikir Islam sehingga sampai saat ini bangsa Baratlah yang menjadi pelopor dan pengendali ilmu pengetahuan dan teknologi.

B. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi topik pada makalah ini adalah sekilas persoalan Pendidikan Islam dan teknologi komunikasi-informasi, yang menyangkut penjabaran secara teoritis kedua aspek pembahasan, serta bagaimana korelasi keduanya dalam konteks hubungan yang mutualisme; dan membangun pendidikan Islam yang berbasis teknologi komunikasi, sebagai sebuah tawaran dalam upaya membangun pendidikan Islam dengan memposisikan teknologi sebagai bagian dari aspek penting dalam pendidikan.

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas study field dengan dengan topik Islam dan Kemajuan Teknologi Komunikasi, dalam makalah ini lebih menitik beratkan kepada sekilas persoalan yang telah dipaparkan di rumusan masalah, pembahasan mengenai pendidikan Islam dan teknologi komunikasi-informasi.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Teori Komunikasi Islam
Komunikasi Islam merupakan bentuk frasa dan pemikiran yang baru muncul dalam penelitian akademik sekitar tiga dekade belakangan ini. Munculnya pemikiran dan aktivisme komunikasi Islam didasarkan pada kegagalan falsafah, paradigma dan pelaksanaan komunikasi Barat yang lebih mengoptimalkan nilai-nilai pragmatis, materialistis serta penggunaan media secara kapitalis. Kegagalan tersebut menimbulkan implikasi negatif terutama terhadap komunitas Muslim di seluruh penjuru dunia akibat perbedaan agama, budaya dan gaya hidup dari negara-negara (Barat) yang menjadi produsen ilmu tersebut.
Ilmu komunikasi Islam yang hangat diperbincangkan akhir-akhir ini terutama menyangkut teori dan prinsip-prinsip komunikasi Islam, serta pendekatan Islam tentang komunikasi. Titik penting munculnya aktivisme dan pemikiran mengenai komunikasi Islam ditandai dengan terbitnya jurnal "Media, Culture and Society" pada bulan Januari 1993 di London. Ini semakin menunjukkan jati diri komunikasi Islam yang tengah mendapat perhatian dan sorotan masyarakat tidak saja di belahan negara berpenduduk Muslim tetapi juga di negara-negara Barat. Isu-isu yang dikembangkan dalam jurnal tersebut menyangkut Islam dan komunikasi yang meliputi perspektif Islam terhadap media, pemanfaatan media massa pada era pascamodern, kedudukan dan perjalanan media massa di negara Muslim serta perspektif politik terhadap Islam dan komunikasi.
Komunikasi Islam berfokus pada teori-teori komunikasi yang dikembangkan oleh para pemikir Muslim. Tujuan akhirnya adalah menjadikan komunikasi Islam sebagai komunikasi alternatif, terutama dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang bersesuaian dengan fitrah penciptaan manusia. Kesesuaian nilai-nilai komunikasi dengan dimensi penciptaan fitrah kemanusiaan itu memberi manfaat terhadap kesejahteraan manusia sejagat. Sehingga dalam perspektif ini, komunikasi Islam merupakan proses penyampaian atau tukar menukar informasi yang menggunakan prinsip dan kaedah komunikasi dalam Alquran. Komunikasi Islam dengan demikian dapat didefenisikan sebagai proses penyampaian nilai-nilai Islam dari komunikator kepada komunikan dengan menggunakan prinsip-prinsip komunikasi yang sesuai dengan Alquran dan Hadis.\
Dalam Islam, prinsip informasi bukan merupakan hak eksklusif dan bahan komoditi yang bersifat value-free, tetapi ia memiliki norma-norma, etika dan moral imperatif yang bertujuan sebagai service membangun kualitas manusia secara paripurna. Jadi Islam meletakkan inspirasi tauhid sebagai parameter pengembangan teori komunikasi dan informasi. Alquran menyediakan seperangkat aturan dalam prinsip dan tata berkomunikasi.
Dalam masalah ketelitian menerima informasi, Alquran misalnya memerintahkan untuk melakukan check and recheck terhadap informasi yang diterima. Dalam surah al-Hujurat ayat 6 dikatakan:
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

B. Pendidikan Islam
Proses pendidikan Islam merupakan rangkaian usaha membimbing, mengarahkan, potensi hidup manusia yang berupa kemampuan – kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sehingga terjadilah perubahan dalam kehidupan pribadinya sebagai makhluk individual, dan sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitar dimana nilai- nilai Islam, yaitu nilai – nulai yang melahirkan norma-norma syariah dan akhlak karimah.
Tujuan kependidikan Islam adalah merupakan penggambaran nilai-nilai Islami yang hendak diwujudkan dalam pribadi manusia, dengan istilah lain tujuan pendidikan Islam perwujudan nilai-nilai Islami dalam diri manusia didik. Jadi kesanalah pendidikan Islam seharusnya diarahkan, agar pendidikan Islam tidak hanyut terbawa arus modernisasi dan kemajuan IPTEK.

BAB III
PEMBAHASAN

1. Pendidikan Islam dan Sistem Teknologi Komunikasi
Di antara pembahasan pendidikan Islam yang sering diperbincangkan adalah persoalan pemaknaan pendidikan, tujuan, kurikulum dan metodologi. Terkait dengan persoalan pendidikan Islam dan teknologi komunikasi, maka hal yang perlu ditekankan dalam tulisan ini adalah berkenaan dengan rumusan konsep dan tujuan pendidikan Islam, sebagai substansi penting yang dapat mengarahkan orientasi pendidikan Islam itu sendiri. Berkenaan dengan hal ini, banyak tawaran yang telah digagas oleh para pakar pendidikan, baik melalui konsep yang sederhana sampai pada rumusan yang ideal.
Pendidikan (education) dalam sudut pandang manusia dapat dinyatakan sebagai proses sosialisasi, yakni untuk memasyarakatkan nilai-nilai, ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam kehidupan. Sedangkan dari sudut pandang individu, pendidikan merupakan proses perkembangan, yakni perkembangan potensi yang dimiliki secara maksimal dan diwujudkan dalam bentuk konkret, dalam arti kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dan berguna untuk kehidupan manusia di masa akan datang.
Secara khusus pendidikan Islam, Hasan Langgulung mendefinisikan pendidikan Islam adalah suatu proses spiritual, akhlak, intelektual dan sosial yang berusaha membimbing manusia dan memberinya nilai-nilai, prinsip- prinsip dan teladan ideal dalam kehidupan yang bertujuan mempersiapkan kehidupan dunia akhirat. Ahmad D. Marimba mengartikan pendidikan, atau secara khusus pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran
Islam. Kepribadian utama menurut ukuran Islam disebut kepribadian Muslim, yaitu kepribadian yang memiliki nilai- nilai agama Islam dan bertanggungjawab sesuai dengan nilai-nilai Islam. Ali Ashraf menyatakan bahwa pendidikan Islam seharusnya bertujuan menimbulkan pertumbuhan yang seimbang dari kepribadian total manusia melalui latihan spiritual, intelektual, rasional diri, perasaan, dan kepekaan tubuh manusia. Tujuan akhir pendidikan Muslim adalah perwujudan penyerahan mutlak kepada Allah, pada tingkat individu, masyarakat, dan kemanusiaan pada umumnya.
Dari beberapa definisi di atas dapatlah difahami bahwa:
hakikat pendidikan Islam pada prinsipnya adalah proses dan usaha membina serta mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Dengan terbinanya seluruh potensi mereka secara sempurna diharapkan dapat melaksanakan fungsi pengabdiannya sebagai khalifah di muka bumi. Atas dasar ini, M. Quraish Shihab sebagaimana dikutip Ahmad Arifi berpendapat, bahwa tujuan pendidikan al-Qur'an (Islam) adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba dan khalifah-Nya, guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah.
Dari beberapa rumusan yang dikemukakan oleh para ahli tersebut di atas, maka dapat diketahui bahwa tujuan pendidikan Islam memiliki ciri-ciri, sebagai berikut: 1) mengarahkan manusia agar menjadi khalifah Tuhan di muka bumi dengan sebaik-baiknya, yaitu melaksanakan tugas memakmurkan dan mengolah bumi sesuai dengan kehendak Tuhan; 2) Mengarahkan manusia agar seluruh pelaksanaan tugas kekhalifahannya di muka bumi dilaksanakan dalam rangka beribadah kepada Allah swt, sehingga tugas tersebut terasa ringan dilaksanakan; 3) mengarahkan manusia agar berkahlak mulia, sehingga ia tidak menyalahgunakan fungsi kehalifahannya; 4) membina dan mengarahkan potensi akal, jiwa, dan jasmaninya, sehingga ia memiliki ilmu, akhlak, dan keterampilan yang semuanya dapat digunakan untuk mendukung tugas pengabdian dan kekhalifahannya; 5) mengarahkan manusia agar dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Dalam kaitan ini, secara lebih khusus al-Syaibani merumuskan tujuan pendidikan Islam, sebagai berikut: 1) tujuan yang berkaitan dengan individu yang mencakup perubahan berupa pengetahuan, tingkah laku, jasmani dan rohani, dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki untuk hidup di dunia dan akhirat; 2) tujuan yang berkaitan dengan masyarakat yang mencakup tingkah laku individu dalam masyarakat, perubahan hidup di masyarakat, serta memperkaya pengalaman masyarakat; 3) tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, seni, profesi dan sebagainya.
Dengan demikian, pada dasarnya secara konsep dan tujuan bahwa pendidikan Islam berupaya untuk mengarahkan manusia untuk menjadi sosok yang memiliki kekuatan dalam setiap aspek potensi yang dimilikinya, sehingga kekuatannya tidak hanya terletak pada unsur akal, tetapi juga unsur ruhani yang dapat mengarahkannya keselamatan. Namun demikian, pengoptimalan akal dan jasad lewat dan pengembangan ilmu pengetahuan termasuk teknologi adalah bagian dari hal penting yang perlu diperhatikan.

2. Sistem Teknologi Komunikasi
Secara etimologi, istilah "teknologi" dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Inggris technology. Dalam Kamus Ilmiah, teknologi berarti penerapan ilmu atau suatu kumpulan ilmu pengetahuan yang praktis dan erat hubungannya dengan enjinering atau rekayasa, perindustrian dan sebagainya. Menurut Leksikon sebagaimana dikutip Abdul Mukti, technology adalah scientific study, yang memiliki pengertian: 1) kajian, telaah, penelitian yang sistematis, dan ilmiah. Dengan kata lain, teknologi adalah "ilmu" dalam pengertiannya yang luas; 2) teknologi adalah mechanical arts, yakni alat-alat mekanis (mesin); 3) teknologi berarti applied science, yaitu ilmu-ilmu terapan atau ilmu-ilmu praktis; 4) teknologi berarti application of this to practical task (aplikasi dari ilmu dan alat-alat untuk kepentingan atau pekerjaan harian).
Amin Haedari, dkk, mengartikan teknologi sebagai semua perwujudan alam yang direkayasa oleh manusia, sehingga tidak lagi "alami" seperti yang telah disajikan kepada manusia oleh sang pencipta. Perwujudan ini bisa terkait dengan bidang transportasi seperti kendaraan bermotor atau mobil, bidang pertanian seperti bibit tanaman unggul, bidang kesehatan seperti obat antibiotika, atau di bidang lainnya, termasuk teknologi di bidang komunikasi dan informasi seperti telepon seluler, camera digital, komputer, jaringan internet, dan sebagainya.
Dari definisi di atas, mengisyaratkan beberapa hal penting, di antaranya adalah: pertama, teknologi adalah ilmu tentang cara menerapkan sains; kedua, teknologi bersumber atau berkaitan erat dengan alam semesta; ketiga, tujuan penciptaan dan penerapan teknologi adalah untuk kenyamanan manusia. Dengan demikian, secara prinsip teknologi tidak dapat dipisahkan dari alam dan manusia. Karena pada dasarnya, teknologi diciptakan untuk "melayani" dan memudahkan kehidupan manusia.
Sedangkan sistem komunikasi, atau biasa juga disebut dengan sistem informasi, adalah suatu organisasi atau penyampaian berita, ketentuan atau pengetahuan dalam komunikan tertentu. Dengan kata lain, sistem komunikasi atau informasi merupakan suatu proses penyebaran informasi sehingga informasi tersebut menjadi milik bersama. Oleh karena itu, sistem informasi dan komunikasi pada hakikatnya mengandung makna pendidikan, karena pemilikan bersama suatu norma, ketentuan berita atau pengetahuan tertentu hanya terjadi jika ada proses interaksi.
Pada masyarakat informasi, peranan media elektronika sangat memegang peranan penting dan bahkan menentukan corak kehidupan. Penggunaan teknologi elektronika seperti televisi (antena digital), komputer, faksimile, internet, dan lain-lain, telah mengubah lingkungan informasi dari lingkungan yang bercorak lokal dan nasional, kepada lingkungan yang bersifat internasional, mendunia, dan global. Pada era informasi, lewat komunikasi satelit dan komputer, orang memasuki lingkungan informasi dunia. Komputer bukan saja sanggup menyimpan informasi dari seluruh dunia, melainkan juga sanggup mengolahnya dan menghasilkannya secara lisan, tulisan, bahkan visual.
Singkatnya, sarana teknologi komunikasi-informasi yang berkembang psat sampai saat ini, memiliki sistem kerja dengan ciri kecanggihannya.
Namun perlu untuk diperhatikan, peran media elektronik yang demikian besar telah menggeser agen-agen sosialisasi yang berlangsung secara tradisional, seperti yang dilakukan oleh orang tua, guru, pemerintah, dan sebagainya. Komputer telah menjadi teman bermain, orang tua yang akrab, guru yang memberikan pesan, juga sewaktu-waktu dapat memberikan jawaban segera terhadap pertanyaan- pertanyaan eksitensial dan mendasar. Kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi-informasi tersebut, pada akhirnya memberikan pengaruh pada kejiwaan dan kepribadian masyarakat. Menurut Abuddin Nata, pada era informasi yang sanggup bertahan hanyalah mereka yang berorientasi ke depan, yang mampu mengubah pengetahuan menjadi kebijakan, dan ciri-ciri lain sebagaimana dimiliki masyarakat modern.
Dari keadaan ini, semua masyarakat suatu bangsa dengan bangsa lain menjadi satu, baik dalam bidang sosial, budaya, ekonomi, dan sebagainya. Hal ini pada satu sisi ada baiknya dan banyak manfaatnya, yakni terjadinya pertukaran budaya, informasi, dan ilmu pengetahuan, sehingga dapat meningkatkan kualitas masing-masing. Namun di sisi lain, keterbukaan seperti ini juga memberikan dampak negatif yang tidak kecil, sehingga perlu kecermatan dalam menyeleksi informasi atau budaya.

3. Hubungan Mutualisme Pendidikan Islam dan Teknologi Komunikasi
Pendidikan Islam yang memiliki tugas pokok menggali, menganalisis dan mengembangkan serta mengamalkan ajaran Islam yang bersumberkan al-Qur'an dan al-Hadits, pada dasarnya telah cukup memperoleh bimbingan dan arahan dari kedua sumber pokok tersebut, yakni mulai dari proses memahami terhadap hal-hal yang bersifat metafisik sampai dengan kemampuan hidup yang rasionalistik, analitik, sintetik dan logik terhadap kekuatan alam sekitar. Hal ini menyadarkan manusia akan fungsinya sebagai "khalifah" di muka bumi yang akomodatif terhadap lingkungannya. Dengan demikian, pada dasarnya sumber ajaran Islam seperti Al-Qur'an, sebenarnya sangat fleksibel serta responsif terhadap tuntutan hidup manusia yang makin maju dan modern dalam segala bidang kehidupan, termasuk bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informasi yang saat ini begitu pesat perkembangannya.
Secara embrionik, dorongan al-Qur'an terhadap pengembangan rasio untuk pemantapan iman dan takwa yang diperkokoh melalui ilmu pengetahuan manusia adalah merupakan ciri khas Islami, yang membedakannya dengan kitab suci agama lain. Al-Qur'an sebagai sumber pedoman hidup manusia telah memberikan wawasan dasar terhadap masa depan hidup manusia dengan rentangan akal pikirannya yang mendalam dan meluas sampai pada penemuan ilmu dan teknologi yang secanggih-canggihnya. Maka dari itu, al-Qur'an menegaskan 300 kali perintah untuk menfungsikan rasio (akal) manusia, dan 780 kali mengukuhkan pentingnya ilmu pengetahuan. Di antara ayat- ayat yang mendorong dan merangsang akal pikiran untuk berilmu pengetahuan dan teknologi, di antaranya QS. Ar- Rahman [55]: 1-33 tentang kelautan dan ruang angkasa; al- An'am [6]: 79 tentang eksplorasi benda-benda ruang angkasa dengan akal pikiran oleh Nabi Ibrahim untuk menemukan Tuhan yang hak; serta QS. Saba' [34]: 10-13 tentang pengolahan dan pemanfaatan besi dan tembaga sebagai bahan teknologi bangunan-bangunan kolosal; QS. Al-Mulk [67]: 19, secara simbolis Allah juga telah menjabarkan berbagai model teknologi pembuatan kapal terbang dengan meniru pola atau rancang bangun struktur burung di angkasa, serta banyak lagi ayat yang lainnya.
Beberapa ayat di atas, dapat menjadikan al-Qur'an sebagai sumber motivasi dalam rangka mengembangkan pendidikan Islam yang berbasis pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk rekayasa teknologi. Karena al-Qur'an telah secara jelas memberikan dorongan kepada manusia agar melakukan analisis dan perlu berupaya untuk mengembangkan ilmu dan teknologi, agar bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Dengan demikian, maka pendidikan Islam dengan sumber utamanya al-Qur'an, dapat dikembangkan menjadi agent of technologically and culturally motivating reousrces dalam berbagai model yang mampu mendobrak pola pikir tradisional yang pada dasarnya dogmatis, kurang dinamis dan berkembang secara bebas. Karena secara prinsip, nilai- nilai Islam tidak mengekang atau membelenggu pola pikir manusia dalam arena pemikiran rasionalistik dan analitik yang diperlukan dalam proses pengembangan ilmu pengetahuan. Relevan dengan hal tersebut, maka dalam hal ini kemampuan berijtihad dalam segala bidang ilmu pengetahuan perlu dikembangkan secara terus-menerus. Hal yang paling penting adalah bagaimana menumbuhkembangkan ide-ide dan konsep-konsep keilmiahan yang bersumberkan al-Qur'an ke dalam pelaksanaan pendidikan yang secara fungsional dapat mengacu ke dalam perkembangan masyarakat yang semakin dinamis.
Jika dikaitkan antara pendidikan Islam dan IPTEK, maka pada dasarnya keduanya saling menguatkan. Pendidikan Islam yang berangkat dari sumber ajaran agama (Islam), sudah tentu tidak dapat melepaskan diri dari realitas kehidupan sosial manusia yang terus berkembang. Sedangkan Ilmu pengetahuan dan teknologi, secara khusus teknologi komunikasi atau informasi, merupakan di antara konsekuensi yang timbul dari adanya perubahan kehidupan sosial manusia, yang saat ini telah menjalani era globalisasi dengan segala dinamikanya.
Kehadiran teknologi komunikasi, harus diakui memberikan pengaruh yang besar bagi dunia pendidikan Islam. Menurut Marwah Daud Ibrahim, potensi perubahan sosial yang mendasar dari skala makro yang terjadi dalam masyarakat sebagai akibat dari kemajuan teknologi dan komunikasi di antaranya adalah: 1) dengan kemajuan teknologi, komunikasi manusia kian kosmopolit. Dengan kata lain, akan membuat orang lebih terbuka dan dapat menerima perubahan yang baik. Hal ini memungkinkan tiap- tiap orang bisa menerima cara pandang berbeda dari budaya yang berbeda; 2) dengan kemajuan teknologi komunikasi diharapkan dapat menumbuhkan semangat ukhuwah Islamiyah dan solidaritas sosial menjadi semakin meningkat; 3) kemajuan teknologi komunikasi diharapkan pada setiap individu memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Asumsi ini didasarkan pada peralatan komunikasi bisa menjadi alat bantu dalam dunia pendidikan, mengajarkan
keterampilan dan sebagainya. Dari ketiga unsur ini diharapkan, pemanfaatan teknologi komunikasi akan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam rangka mengembangkan sumber daya manusia yang dimiliki, termasuk dalam pendidikan Islam.
Akan tetapi, hal lain yang perlu diperhatikan dari adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi adalah dampak yang ditimbulkan dapat memunculkan cognitive dissonance (ketidak selarasan pikiran), terutama di kalangan generasi muda dan anak-anak. Maksudnya, sumber nilai atau panutan menjadi tidak tunggal atau menjadi beraneka ragam. Jika dahulu keluarga, sekolah dan tempat tempat-tempat ibadah merupakan institusi yang mengintroduksi nilai kepada anak-anak dan remaja atau pemuda, maka kini media massa juga menawarkan nilai- nilai tersendiri. Jika nilai yang diberikan oleh media tersebut sejalan dengan apa yang didapatkan pada institusi, maka akan didapati hasil yang maksimal. Tetapi jika apa yang disampaikan oleh media malah bertentangan atau bahkan menyimpang dari nilai yang ada atau seharusnya dari institusi pendidikan, maka akan dapat mengakibatkan anak- anak dan generasi muda dilanda kebingungan atau mengalami dekadensi moral dan akhlak. Hal ini akan berpengaruh lebih kuat dan dominan pada perilaku sosialnya.
Selain itu, banyaknya muatan informasi yang dating dari segala arah tentu saja tidak semuanya sesuai dengan norma atau nilai yang berlaku bagi masyarakat Indonesia, secara khusus umat Islam. Karena pada kenyataannya, walaupun dengan kemajuan teknologi komunikasi-informasi banyak memberikan manfaat dan kemudahan bagi kehidupan manusia, tetapi sifat materialistis dan cenderung mengabaikan nilai-nilai moral di dalamnya, perlu menjadi warning khusus bagi pendidikan Islam untuk mengarahkannya secara lebih bermakna.
Dengan demikian, pada prinsipnya kemajuan teknologi komunikasi tidaklah bertentangan dengan pendidikan Islam, justru sebenarnya sangat membantu dalam meningkatkan kualitas peserta didiknya. Akan tetapi, pendidikan Islam seharusnya dapat selalu di arahkan agar tidak hanyut terbawa arus modernisasi dan kemajuan teknologi komunikasi. Untuk itu, perlu adanya strategi yang mampu mengintegrasikan antara keduanya agar saling melengkapi dan menjadi perpaduan yang dapat mengangkat kualitas pendidikan Islam sesuai dengan tuntutan realita kehidupan.

BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Manusia adalah makhluk yang unik. Ia tahu bahwa ia tahu dan ia tahu bahwa ia tidak tahu. Ia mengenal dunia sekelilingnya dan lebih dari itu ia mengenal dirinya sendiri. Manusia memiliki akal budi, rasa, karsa, dan daya cipta yang digunakan untuk memahami eksistensinya, dari mana sesungguhnya ia berasal, dimana berada dan akan kemana perginya. Pertanyaan-pertanyaan selalu muncul, akan tetapi pertanyaan itu belum pernah berhasil dijawab secara tuntas. Manusia tetap saja diliputi ketidaktahuan. Demikianlah sesungguhnya manusia, siapa saja, eksis dalam suasana yang diliputi dengan pertanyaan–pertanyaan. Manusia eksis di dalam dan pada dunia filsafat dan filsafat hidup subur di dalam aktualisasi manusia.
Berdasarkan rasa, karsa dan daya cipta yang dimilikinya manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) termasuk didalamnya adalah teknologi komunikasi dan teknologi informasi. Namun, perkembangan teknologi yang luar biasa menyebabkan manusia "lupa diri". Manusia menjadi individual, egoistik dan eksploitatif, baik terhadap diri sendiri, sesamanya, masyarakatnya, alam lingkungannya, bahkan terhadap Tuhan Sang Penciptanya sendiri. Karena itulah filsafat ilmu pengetahuan dihadirkan ditengah-tengah keaneka ragaman IPTEK untuk meluruskan jalan dan menepatkan fungsinya bagi hidup dan kehidupan manusia di dunia ini.
Kemajuan sains dan teknologi telah memberikan kemudahan-kemudahan dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia sekaligus merupakan sarana bagi kesempurnaan manusia sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya. Allah telah mengaruniakan anugerah kenikmatan kepada manusia yang bersifat saling melengkapi yaitu anugerah agama dan kenikmatan sains teknologi.
Agama dan Ilmu pengetahuan-teknologi merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ilmu adalah sumber teknologi yang mampu memberikan kemungkinan munculnya berbagai penemuan rekayasa dan ide-ide. Adapun teknologi adalah terapan atau aplikasi dari ilmu yang dapat ditunjukkan dalam hasil nyata yang lebih canggih dan dapat mendorong manusia untuk berkembang lebih maju lagi. Namun, terlepas dari semua itu, perkembangan teknologi tidak boleh melepaskan diri dari nilai-nilai agama Islam. Sebagaimana adigum yang dibangun oleh Fisikawan besar, Albert Einstin yang menyatakan: "Agama tanpa ilmu akan pincang, sedangkan ilmu tanpa agama akan Buta".
Untuk menghindari efek atau dampak dari perkembangan teknologi komunikasi dan teknologi informasi, sebagai umat Islam yang bijak dan taat pada aturan ajaran agamanya, hendaknya berawal dari diri sendiri dalam menyikapi terpaan perkembangan teknologi komunikasi dan teknologi informasi. Pergunakanlah manfaat yang postifnya apabila dampak dari perkembangan teknologi komunikasi dan teknologi informasi itu bisa bermanfaat dalam kehidupan umat Islam. Dan Jauhilah atau buanglah manfaat negatifnya apabila dampak dari perkembangan teknologi komunikasi dan teknologi informasi itu cenderung bersifat menjerumuskan kedalam kebathilan. Dikarenakan agama Islam tidak menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga tidak anti terhadap barang-barang produk teknologi baik di zaman lampau di masa sekarang, maupun di waktu-waktu yang kan datang. Demikian pula dengan ajaran Islam, yang tidak akan bertentangan dengan teori-teori pemikiran modern yang teratur dan lurus, serta analisa-analisa yang teliti dan obyekitf. Dalam pandangan Islam menurut hukum asalnya segala sesuatu itu adalah mubah termasuk segala apa yang disajikan oleh berbagai peradaban baik yang lama ataupun yang baru. Semua itu sebagaimana diajarkan oleh Islam tidak ada yang hukumnya haram, kecuali jika terdapat nash atau dalil yang tegas dan pasti mengherankannya.

Saran
Pengembangan pendidikan Islam berbasis IPTEK haruslah sesuai dengan identitas al-Qur'an dan sunnah Nabi yang berorientasi kepada hubungan tiga arah, yakni: pertama, berorientasi ke arah Tuhan pencipta alam semesta; kedua, berorientasi ke arah hubungan dengan sesama manusia; ketiga, berorientasi ke arah bagaimana pola hubungan manusia dengan alam sekitarnya, termasuk dirinya sendiri harus dikembangkan. Dalam hal ini, orientasi hubungan alam sekitar dan diri manusia sendiri menjadi dasar pengembangan ilmu dan teknologi (komunikasi atau informasi), sedangkan orientasi hubungan dengan Tuhan menjadi dasar pengembangan sikap dedikasi dan moralitas yang menjiwai pengembangan ilmu dan teknologi, dan orientasi hubungan sesama manusia menjadi dasar pengembangan hidup bermasyarakat yang berpolakan atas kesinambungan, keserasian, serta keselarasan dengan nilai-nilai moralitas yang dapat memberikan kesejahteraan.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Muzzayin. 2008. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

Ashraf, Ali. 1993. Horison Baru Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka
Firdaus.

Assegaf, Abd. Rachman. 2004. "Membangun Format Pendidikan Islam di Era Globalisasi", dalam Imam Machali dan Musthofa (ed), Pendidikan Islam dan Tantangan Globalisasi (Buah Pikiran Seputar Filsafat, Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya. Yogyakarta: Ar-Ruuz Media.

A. Mughni, Syafiq. 2001. Nilai-nilai Islam (Perumusan Ajaran dan
Upaya Aktualisasi). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fuad, Moch. 2004. "Pendidikan Islam dan Tantangan Globalisasi (Perspektif Sosial Budaya)", dalam Imam Machali dan Musthofa (ed), Pendidikan Islam dan Tantangan Globalisasi (Buah Pikiran Seputar Filsafat, Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya. Yogyakarta: Ar-Ruuz Media.

Haedari, HM. Amin, dkk. 2004. Masa Depan Pesantren (Dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Kompleksitas). Jakarta: IRD Press.

Hawi, Akmal. 2005. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Palembang: IAIN Raden Fatah.

Idi, Abdullah dan Suharto, Toto. 2006. Revitalisasi Pendidikan
Islam. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Langgulung, Hasan. 1993. Asas-asas Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka al-Husna.

La Ode, Sismono, dkk. 2006. Biografi Pemikiran dan Kepemimpinan Prof. Suyanto, Ph. D (Di Belantara Pendidikan Bermoral). Yogyakarta: UNY Press,

Mukti, Abdul. 2001. "Pendidikan Agama dalam Masyarakat Teknokratik", dalam Ismail SM, Nurul Huda, Abdul Kholiq (ed), Paradigma Pendidikan Islam. Semarang: Pustaka Pelajar.

Nata, Abuddin. 2001. Paradigma Pendidikan Islam. Jakarta: Grasindo,
Rosyadi, Khoiron. 2004. Pendidikan Profetik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Saefudin, A. M. 1987. Desekularisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi. Bandung: Mizan.

Tim Prima Pena. 2006. Kamus Ilmiah Populer (Referensi Ilmiah Ideologi, Politik, Hukum, Ekonomi, Sosial, Budaya dan Sains). Surabaya: GitaMedia Press.

Share