Konflik komunikasi antar pribadi

By. Muhari (Penulis staf Biro Humas Setda Prov Kalsel)

P E N D A H U L U A N

Latar Belakang
Salah satu hal yang tidak dapat kita hindari dalam hidup ini adalah komunikasi. Komunikasi bagaikan udara untuk bernafas. Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat melakukan komunikasi dengan diri sendiri, yang dalam ilmu komunikasi di kenal sebagai istilah komunikasi Intrapersonal. Kita juga berkomunikasi dengan orang lain baik secara tatap muka langsung maupun dalam kelompok, dengan menggunakan media, yang disebut komunikasi interpersonal (Devito,2007).
Setiap hubungan antarpribadi mengandung unsur-unsur konflik, pertentangan pendapat atau perbedaan kepentingan. Konflik terjadi karena adanya interaksi yang disebut komunikasi. Hal ini berarti, bila kita ingin mengetahui konflik, kita harus mengetahui kemampuan dan perilaku komunikasi. Semua konflik mengandung komunikasi, tapi tidak semua konflik berakar pada komunikasi yang buruk.
Berbagai mitos tentang konflik dipahami berdasarkan dua sudut pandang, yaitu tradisional maupun kontemporer. Dalam pandangan tradisional, konflik dianggap sebagai sesuatu yang buruk yang harus dihindari. Bahkan sering kali konflik dikaitkan dengan kemarahan, agresivitas, pertentangan baik secara fisik maupun dengan kata-kata kasar. Sebaliknya, pandangan kontemporer mengenai konflik didasarkan pada anggapan bahwa konflik adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan sebagai konsekuensi logis interaksi manusia.
Menurut Myers, jika komunikasi adalah suatu proses transaksi, yang berupaya mempertemukan perbedaan individu secara bersama-sama untuk mencari kesamaan makna, maka dalam proses itu, pasti ada konflik. Konflik pun tidak hanya diungkapkan secara verbal tapi juga diungkapkan secara nonverbal seperti dalam bentuk raut muka, gerak badan, yang mengekspresikan pertentangan.

P E M B A H A S A N

1. Pengertian Konflik
Konflik adalah situasi dimana tindakan salah satu pihak berakibat menghalangi, menghambat, atau mengganggu tindakan pihak lain (Johnson, 1981)
Robbins (1996) dalam "Organization Behavior" menjelaskan bahwa konflik adalah suatu proses interaksi yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian antara dua pendapat (sudut pandang) yang berpengaruh atas pihak-pihak yang terlibat baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif.
Sedang menurut Luthans (1981) konflik adalah kondisi yang ditimbulkan oleh adanya kekuatan yang saling bertentangan. Kekuatan-kekuatan ini bersumber pada keinginan manusia.
Jenis-Jenis Konflik

Menurut James A.F. Stoner dan Charles Wankel, terdapat lima jenis konflik yaitu:
• Konflik Intrapersonal, Yaitu konflik seseorang dengan dirinya sendiri. Konflik terjadi bila pada waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligu
• Konflik Interpersonal, Yaitu pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena pertentangan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara dua orang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain.
• Konflik antar individu dan kelompok, Yaitu berhubungan dengan cara individu menghadapi tekanan-tekanan untuk mencapai konformitas, yang ditekankan kepada mereka oleh kelompok kerja mereka.
• Konflik antara kelompok, Yaitu konflik antara kelompok dalam organisasi yang sama. Konflik ini merupakan tipe konflik yang banyak terjadi di dalam organisasi-organisasi. Konflik antar lini dan staf merupakan merupakan contoh konflik antar kelompok
• Konflik antara organisasi, Yaitu disebut dengan persaingan. Namun berdasar pengalaman, konflik ini ternyata menyebabkan timbulnya pengembangan produk-produk baru, teknologi baru dan servis baru, harga lebih rendah dan pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien.

Nilai-nilai Positif Konflik

Dalam pembelajaran, apabila terjadi konflik, maka pengelolaan konflik secara positif akan memberikan manfaat. Mengenai pengelolaan konflik secara baik sehingga memberikan manfaat, dapat dikemukakan sebagai berikut (Johnson, 1981):
• Konflik dapat menjadikan kita sadar bahwa ada persoalan yang perlu dipecahkan dalam hubungan kita dengan orang lain.
• Konflik dapat menyadarkan dan mendorong kita untuk melakukan perubahan-perubahan dalam diri kita.
• Konflik dapat menumbuhkan dorongan dalam diri kita untuk memecahkan persoalan yang selama ini tidak jelas kita sadari atau kita biarkan tidak muncul ke permukaan.
• Konflik dapat menjadikan hidup seseorang lebih menarik.
• Perbedaan pendapat akan membimbing ke arah tercapainya keputusan-keputusan bersama yang lebih matang dan bermutu.
• Konflik dapat menghilangkan ketegangan-ketegangan kecil yang sering kita alami dalam hubungan kita dengan seseorang.
• Konflik dapat juga menjadikan kita sadar tentang siapa atau macam apa diri kita sesungguhnya,
• Konflik dapat juga menjadi sumber hiburan.
• Konflikdapat mempererat dan memperkaya hubungan

2. Pengertian Komunikasi Antar Pribadi (KAP)
Batasan pengertian yang benar-benar baik tentang komunikasi antar pribadi tidak ada yang memuaskan semua pihak. Semua batasan arti sangat tergantung bagaimana individu melihat dan mengetahui perilaku pada saat terdapat dua individu atau lebih yang saling mengenal secara pribadi daripada hanya berbasa-basi saja. Dengan kata lain, tidak semua bentuk interaksi yang dilakukan antara dua individu dapat digolongkan komunikasi antar pribadi. Ada tahap-tahap tertentu dalam interaksi antara dua individu harus terlewati untuk menentukan komunikasi antar pribadi benar-benar dilakukan.

Ada tujuh sifat yang menunjukkan bahwa suatu komunikasi antara dua individu merupakan komunikasi antar pribadi (Liliweri, 1991). Sifat-sifat komunikasi antar pribadi itu adalah :
1. Melibatkan di dalamnya perilaku verbal dan non verbal.
2. Melibatkan perilaku spontan, tepat, dan rasional.
3. Komunikasi antar pribadi tidaklah statis, melainkan dinamis.
4. Melibatkan umpan balik pribadi, hubungan interaksi, dan koherensi (pernyataan yang satu harus berkaitan dengan yang lain sebelumnya).
5. Komunikasi antar pribadi dipandu oleh tata aturan yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik.
6. Komunikasi antar pribadi merupakan suatu kegiatan dan tindakan.
7. Melibatkan di dalamnya bidang persuasif.

Lebih lanjut, Lunandi (1992) menjelaskan bahwa yang dimaksud komunikasi antar pribadi yang baik adalah komunikasi yang mempunyai sifat keterbukaan, kepekaan, dan bersifat umpan balik. Individu merasa puas dalam berkomunikasi antar pribadi bila ia dapat mengerti orang lain dan merasa bahwa orang lain juga memahami dirinya.
Komunikasi Antar Pribadi (KAP) adalah komunikasi yang berlangsung dalam situasi tatap muka antara dua orang atau lebih, baik secara terorganisasi maupun pada kerumunan orang (Wiryanto, 2004).
Menurut Deddy Mulyana dalam bukunya "Ilmu Komunikasi, suatu pengantar", Komunikasi antar pribadi adalah komunikasi antar orang-orang secara tatap muka yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun nonverbal. Bentuk khusus dari komunikasi antar pribadi ini adalah komunikasi diadik yang hanya melibatkan dua orang, seperti suami-istri, dua sejawat, dua sahabat dekat, guru-murid dan sebagainya. Ciri-ciri komunikasi diadik adalah pihak-pihak yang berkomunikasi dalam jarak dekat, pihak-pihak yang berkomunikasi mengirim dan menerima pesan secara stimulan dan spontan baik secara verbal ataupun nonverbal.
Sebagai komunikasi yang paling lengkap dan paling sempurna, komunikasi antar pribadi berperan penting hingga kapanpun, selama manusia masih mempunyai emosi. Kenyataannya komunikasi tatap muka ini membuat manusia merasa lebih akrab dengan sesamanya.
Dalam komunikasi dengan orang lain sering kita mengalami kesalahpahaman. Bahkan kesalahpahaman itu kadang meruncing menjadi pertengkaran dan keretakan hubungan. Ketidak berhasilan komunikasi ini dalam ilmu komunikasi disebut komunikasi yang berlangsung tidak efektif. Ketidak efektifan ini terjadi karena kesalahpahaman penerima pesan komunikan tidak sama dengan maksud pesan yang disampaikan oleh komunikator.

• Faktor Penyebab Konflik dalam Hubungan Antarpribadi

Ada beberapa yang dapat menimbulkan terjadinya konflik dalam suatu hubungan antar pribadi. Beberapa penyebab tersebut antara lain

1. Perbedaan individu yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik, sebab dalam menjalani hubungan, seseorang tidak selalu sejalan dengan orang lain.
Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.

2. Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik

3. Perbedaan kepentingan antara individu.
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda.

• Strategi dalam Mengatasi Konflik

Spiegel (1994) menjelaskan ada lima tindakan yang dapat kita lakukan dalam penanganan konflik :
1. Berkompetisi
Pilihan tindakan ini bisa sukses dilakukan jika situasi saat itu membutuhkan keputusan yang cepat, kepentingan salah satu pihak lebih utama dan pilihan kita sangat vital. Hanya perlu diperhatikan situasi menang-kalah akan terjadi disini. Pihak yang kalah akan merasa dirugikan dan dapat menjadi konflik yang berkepanjangan.Tindakan ini bisa dilakukan dalam hubungan atasan-bawahan, dimana atasan menempatkan kepentingannya (kepentingan organisasi) di atas kepentingan bawahan.
2. Menghindari konflik
Tindakan ini dilakukan jika salah satu pihak menghindari dari situsasi tersebut secara fisik ataupun psikologis. Sifat tindakan ini hanyalah menunda konflik yang terjadi. Menghindari konflik bisa dilakukan jika masing-masing pihak mencoba untuk mendinginkan suasana, membekukan konflik untuk sementara.
3. Akomodasi
Yaitu jika kita mengalah dan mengorbankan beberapa kepentingan sendiri agar pihak lain mendapat keuntungan dari situasi konflik itu. Hal ini dilakukan jika kita merasa bahwa kepentingan pihak lain lebih utama atau kita ingin tetap menjaga hubungan baik dengan pihak tersebut. Pertimbangan antara kepentingan pribadi dan hubungan baik menjadi hal yang utama di sini.
4. Kompromi
Tindakan ini dapat dilakukan jika ke dua belah pihak merasa bahwa kedua hal tersebut sama-sama penting dan hubungan baik menjadi yang utama. Masing-masing pihak akan mengorbankan sebagian kepentingannya untuk mendapatkan situasi yang saling menguntungkan.

5. Berkolaborasi
Menciptakan situasi seri dengan saling bekerja sama. Pilihan tindakan ada pada diri kita sendiri dengan konsekuensi dari masing-masing tindakan. Jika terjadi konflik pada lingkungan kerja, kepentingan dan hubungan antar pribadi menjadi hal yang harus kita pertimbangkan.
Namun biasanya kita tidak menyadari cara bertingkah laku kita dalam situasi-situasi konflik. Apa yang kita lakukan seolah-olah terjadi begitu saja. Maka bila kita terlibat dalam suatu konflik dengan orang lain, ada dua hal yang harus kita pertimbangkan :
 Tujuan-tujuan atau kepentingan-kepentingan pribadi kita.
 Hubungan baik dengan pihak lain.

Berdasarkan dua pertimbanan di atas, dapat ditemukan lima gaya dalam mengelola konflik antarpribadi (Johnson, 1981) :
a) Gaya kura-kura
Konon, kura-kura lebih senang menarik diri bersembunyi di balik tempurung badannya untuk menghindari konflik. Mereka cenderung menghindar dari pokok-pokok masalah maupun dari orang-orang yang dapat menimbulkan konflik. Mereka percaya bahwa setiap usaha memecahkan konflik hanya akan sia-sia. Lebih mudah menarik diri, secara fisik maupun psikologis, dari konflik daripada menghadapinya.
b) Gaya ikan hiu
Ikan hiu senang menaklukkan lawan dengan memaksanya menerima solusi konflik yang ia sodorkan. Baginya, tercapainya tujuan pribadi adalah yang utama, sedangkan hubungan dengan pihak lain tidak terlalu penting. Konflik harus dipecahkan dengan cara satu pihak menang dan pihak lainnya kalah. Watak ikan hiu adalah selalu mencari menang dengan cara menyerang, mengunggli dan mengancam ikan-ikan lain.
c) Gaya kancil
Seekor kancil sangat mengutamakan hubungan, dan kurang mementingkan tujuan-tujuan pribadinya. Ia ingin diterima dan disukai binatang lain. Ia berkeyakinan bahwa konflik harus dihindari, demi kerukunan. Setiap konflik tidak mungkin dipecahkan tanpa merusak hubungan. Konflik harus didamaikan, bukan dipecahkan, agar hubungan tidak menjadi rusak.

d) Gaya rubah
Rubah senang mencari kompromi. Baginya, baik tercapainya tujuan-tujuan pribadi maupun hubungan baik dengan pihak lain sama-sama cukup penting. Ia mau mengorbankan sedikit tujuan-tujuannya dan hubungannya dengan pihak lain demi tercapainya kepentingan dan kebaikan bersama.
e) Gaya burung hantu
Burung hantu sangat mengutamakan tujuan-tujuan pribadinya sekaligus hubungannya dengan pihak lain. Baginya konflik merupakan masalah yang harus dicari pemecahannya. Pemecahan itu harus sejalan dengan tujuan-tujuan pribadinya maupun lawannya. Konflik bermanfaat meningkatkan hubungan dengan cara mengurangi ketegangan diantara dua pihak yang berhubungan. Menghadapi konflik, burung hantu akan selalu berusaha mencari penyelesaian yang memuaskan kedua pihak. Penyelesaian yang juga mampu menghilangkan ketegangan serta perasaan negatif lain yang mungkin muncul di dalam diri kedua pihak akibat konflik itu.

Contoh Kasus
Peranan Komunikasi Antarpribadi dalam
Penyelesaian Krisis Rumah Tangga Beda Etnis

Untuk mewujudkan kehidupan keluarga yang bahagia yang diistilahkan dengan sakinah mawadah warahmah dibutuhkan peran serta setiap anggota keluarga yang ada di dalamnya. Anggota keluarga harus dapat menempatkan dirinya dengan baik sesuai dengan perannya dalam kehidupan keluarga. Mereka diharapkan mampu mengantisipasi dan menyelesaikan-semua konflik yang terjadi dengan baik.
Fenomena perkawinan beda etnis atau perkawinan campuran bukan merupakan hal baru, sejak jaman dahulu perkawinan campuran antar etnis merupakan sarana assimilasi yang efektif, terutama perkawinan campuran antara etnis Arab dengan etnis Jawa. Banyak pasangan suami istri berbeda etnis Arab dengan Jawa yang cenderung ingin menampilkan ciri khas budaya diri masing-masing secara dominan satu sama lain. Tetapi mereka tidak sadar bahwa dorongan seperti itu muncul karena mereka tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan komunikasi yang efektif satu sama lain. Salah satu penyebab terjadinya konflik adalah karena adanya miss communication diantara kedua belah pihak yang terjalin dalam ikatan perkawinan, miss communication terjadi antara lain karena adanya perbedaan etnis. Seseorang akan dapat mengalami "culture shock" manakala ia memasuki suatu kehidupan baru dengan budaya yang berbeda.
Berdasarkan hasil penelitian mengindikasikan bahwa miskomunikasi dan konflik kekerasan dalam rumah tangga etnis Arab dengan Jawa terhadap istri lebih disebabkan oleh pola relasi yang tidak sama dan pemilihan pendekatan gaya komunikasi yang kurang tepat sehingga diperlukan pemahaman yang tepat mengenai pola komunikasi yang efektif. Disamping itu, agar konflik tidak menjadi bersifat destruktif dibutuhkan pemahaman atas komunikasi dan kerjasama diantara pasangan suami isteri sehingga tercapai win-win solution dalam menghadapi kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang tidak seiring sejalan.
Bagaimanapun juga gaya komunikasi yang represif akan selalu menimbulkan reaksi yang negatif. Keterbukaan komunikasi antar pasangan suami istri yang baik belum tentu bisa mengurangi intensitas konflik pada proses eskalasi hubungan dalam perkawinan. Faktor gaya komunikasi pada pasangan beda etnis Arab dengan Jawa (mengontrol, agresif, koersif, dominasi) memberi kontribusi untuk menentukan munculnya konflik destruktif. Apalagi ada faktor-faktor lain seperti budaya. Budaya patriakhar mengakibatkan para suami masih memandang peran tradisional dikedepankan apapun bentuk perkawinannya baik perkawinan institusional maupun compasionate/sejajar.
Konflik umum lainnya dalam keluarga yang sering terjadi disebabkan karena, 1) Salah satu pasangan cemburu sehingga selalu mencurigai pasangannya tiap pergi ke luar rumah. 2) Masalah keuangan, sering istri selalu menuntut suami di luar jangkauan penghasilan suaminya. 3) Hadirnya pihak ketiga, baik dari pihak keluarga maupun pria idaman lain (PIL) atau wanita idaman lain (WIL) 4) Jarangnya atau kurangnya komunikasi antara pasangan, sehingga sering masalah kecil menjadi masalah besar. 5) Cacat biologis
Solusi utamanya adalah mereka membentuk ikatan komitmen yang kuat bahwa ketika mengarungi pernikahan maka kesamaan dalam berkomunikasi secara komprehensif perlu dipelajari. Faktor-faktor apa saja yang bisa mempengaruhi komunkasi agar tidak menimbulkan konflik. Konflik memang bisa ditimbulkan oleh komunikasi yang tidak efektif. Sesudah kesamaan komunikasi dicapai, maka alangkah baik andaikata pasangan suami isteri berusaha untuk mencapai pola relasi yang ideal yakni mencapai kepuasan hubungan yang stabil.
Untuk mampu menyelesaikan konflik dibutuhkan suatu keterampilan atau kiat untuk menghadapinya, yaitu dengan seringnya melakukan komunikasi antara sesama anggota keluarga terutama komunikasi antar pribadi. Bentuk hubungan suami istri dikategorikan sebagai hubungan antar pribadi dan komunikasi menjadi dasarnya, maka komunikasi antar pribadi menjadi aspek penting dalam menciptakan hubungan suami istri yang harmonis

BAB III
K E S I M P U L A N

Konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Komunikasi antar pribadi adalah komunikasi antar orang-orang secara tatap muka yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun nonverbal..
Konflik Interpersonal, yaitu pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena pertentangan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara dua orang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Terdapat beberapa Faktor Penyebab Konflik dalam Hubungan Antar pribadi yaitu : Perbedaan individu yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan; Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda; Perbedaan kepentingan antara individu.
Strategi dalam Mengatasi Konflik Antar Pribadi yaitu : Gaya kura-kura; Gaya ikan hiu; Gaya kancil; Gaya rubah; Gaya burung hantu.

S A R A N

Diharapkan setelah para pembaca membaca makalah ini, pembaca dapat menerapkan ilmu pengetahuan yang terdapat dalam makalah ini serta dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dapat melakukan hubungan antar manusia dengan baik tanpa konflik.

DAFTAR PUSTAKA

1. www.google.com
2. http://sitinuraini8.blogspot.com/2013/02/konflik-dalam-hubungan-antar-pribadi.html
3. http://melyloelhabox.blogspot.com/2012/12/konflik-dalam-hubungan-antar-pribadi.html
4. http://illaundaitti.blogspot.com/2013/10/pengertian-komunikasi-antar-pribadi.html
5. http://monangdotnet.wordpress.com/2012/05/25/contoh-tesis-2/
6. http://pasca.uns.ac.id/?p=2912
7. Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D, "Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar", 2000

Share