Gubernur Mengukuhkan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji

Sebanyak 23 panitia penyelenggara ibadah haji embarkasi Banjarmasin dikukuhkan oleh Gubernur Kalimantan Selatan, Senin 18 Agustus 2014.

Acara pengukuhan berlangsung di aula jeddah asrama haji embarkasi banjarmasin di banjarbaru. Dalam Spengukuhan tersebut Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin menyampaikan berdasarkan keputusan direktur jendral penyelenggaraan haji  dan umroh tetrtanggal 25 juni 2014 ke 23 orang ini akan mengemban tugas sesuai tanggung jawab yang diberikan.

Sementara itu dalam sambutannya gubernur kalimantan selatan menyampaikan bahwa Kalimantan Selatan melaksanakan pemberangkatan di tahun ini berjumlah 3.033 ditambah dari Kalimantan Tengah sebanyak 1.080 sehingga pelayanan harus ditingkatkan.

Untuk tahun ini kloter pertama diisi oleh calon jemaah haji asal tabalong yang berjumlah 318 orang dan terakhir kloter  13 yang diisi oleh kabupaten Tala, Banjarmasin dan kalimantan tengah.

Jemaah haji yang berangkat pada tahun ini diharapkan dapat menjaga kesehatan dan mempersiapkan diri sejak di tanah air. Gubernur juga mengingatkan jemaah untuk membawa obat sendiri.

Harapan ini disampaikan Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin disela-sela acara Pengukuhan panitia penyelenggara ibadah haji embarkasi Banjarmasin Senin 18 Agustus kemarin. Dikatakan Gubernur sebelum berangkat ketanah suci mekkah ada baiknya jemaah haji mempersiapkan diri semaksimal mungkin untuk mengikuti ibadah haji ini sejak berada ditanah air, sehingga mempermudah menjalankan perjalanan ibadah haji nantinya.

Namun Gubernur juga meminta kepada jemaah haji yang menunaikan ibadah ketanah suci mekkah, harus pula mengikuti aturan yang sudah dikeluarkan oleh dirjen haji terkait hal-hal yang boleh dan dilarang untuk dilakukan saat melaksanakan ibadah haji di sana.muhari/kh

(Sumber : Biro Humas Setdaprov Kalsel edisi Selasa, 19 Agusttus 2014)

Ketua Kwartir Nasional Gerekan Pramuka

Peringatan Hari Ulang Tahun Pramuka yang ke 53 berlangsung meriah di Murjani Banjarbaru kemarin. Gubernur Kallimantan Selatan Rudy Ariffin turut meramaikan organisasi praja muda karana.

Gubernur saat membacakan sambutan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Adhyaksa Dault menyampaikan  bahwa kita ingin membangun manusia yang memiliki karakter, dan memiliki watak yang kuat. Bukan hanya membangun manusia atau pemuda cerdas yang menguasai ilmu pengetahuan, akan tetapi juga pemuda yang tangguh kepribadiannya, luhur budi bahwa pekertinya, menjunjung kesatuan dan persatuan Indonesia.

Revitalisasi Gerakan Pramuka telah berjalan delapan tahun yang bertujuan utama yaitu untuk memantapkan eksistensi Gerakan Pramuka dan untuk meningkatkan fungsi Gerakan Pramuka.

Dalam kurun delapan tahun ini, telah memperlihatkan hasil yang cukup menggembirakan. Namun demikian, bersamaan dengan itu harus diakui pula bahwa masih besar tantangan yang dihadapi oleh Gerakan Pramuka dan oleh kaum muda Indonesia kita.

Dalam kurun satu dasawarsa dapat dicatat 3 (tiga) moment penting perkembangan Gerakan Pramuka yaitu pertama, Bapak Presiden RI telah mencanangkan kembali Revitalisasi Pramuka pada Hari Pramuka tahun 2006 yang saat ini tampak keberhasilannya dengan semakin marak kegiatan kepramukaan di berbagai daerah; kedua, terbitnya Undang-Undang Nomor 12 tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka yang memperkuat legalitas Pramuka di negeri ini.

Dengan telah terbitnya Undang-Undang tersebut maka pelaksanaan pendidikan kepramukaan pada saat ini tidak lagi hanya sekedar mengisi masa senggang kaum muda dengan pelbagai kegiatan yang positif, akan tetapi telah meningkat menjadi kewajiban setiap warga negara untuk mengimplementasikannya; dan ketiga, masuknya pendidikan kepramukaan ke dalam kurikulum 2013 sebagai ekstra kurikuler wajib yang mulai diberlakukan pada bulan Juli 2014 ini.

Gerakan Pramuka sebagai lembaga pendidikan non formal akan melengkapi pendidikan informal yang diperoleh anak-anak dalam keluarga, dan pendidikan formal di sekolah.

Hal ini mengingat pendidikan formal saja tidaklah cukup untuk menghasilkan kaum muda yang handal dan berkarakter. Sedangkan peranan keluarga sebagai pelaku pendidik informal yang dilakukan orang tua dalam membentuk karakter anak-anak sangatlah penting.

Revitalisasi Gerakan Pramuka terus kita arahkan pada pemantapan pembinaan karakter bangsa. Revitalitasi Gerakan Pramuka kita arahkan pula, untuk memantapkan komitmen generasi muda terhadap empat konsensus dasar bangsa kita yaitu, Pancasila, Undang Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Dengan Tema Hari Pramuka ke-53 “Mantapkan Pembentukan Karakter Kaum Muda Melalui Gugusdepan Terakreditasi” diharapkan komitmen Gerakan Pramuka lebih tinggi terhadap pembentukan karakter bangsa yang lebih baik.
Dalam kesempatan itu, Gubernur  menyerahkan penghargaan dari Gerakan Pramuka kepada beberapa tokoh, diantaranya kepada HM Rosehan NB.muhari/kh

(Sumber : Biro Humas Setdaprov Kalsel edisi Selasa, 19 Agusttus 2014)

Satukan langkah Menjaga Lingkungan

SATUKAN LANGKAH MENJAGA LINGKUNGAN
( REFLEKSI PERINGATAN LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA SEDUNIA TAHUN 2014)
Oleh Muhari
(penulis Staf Biro Humas Setda Prov Kalsel-Praktisi Humas /Radio)

Peringatan hari lingkungan hidup sedunia (World Environment Day) yang rutin diselenggarakan tiap tanggal 5 Juni merupakan program untuk meningkatkan kesdaran global akan pentingnya tindakan lingkungan yang positif bagi seluruh manusia di dunia. Hari lingkungan hidup sedunia ditetapkan sejak pembukaan konferensi lingkungan hidup sedunia di sidang umum PBB di Stockholm 5 – 16 Juni 1972. Hari lingkungan hidup sedunia memberikan ruang bagi seluruh penduduk bumi untuk menjadi bagian aksi global dalam mengkampanyekan proteksi terhadap planet bumi, pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan serta gaya hidup yang ramah lingkungan.
Tahun 2014 ini hari lingkungan hidup sedunia tentu juga diperingati oleh seluruh negara – negara di dunia yang peduli akan keberlangsungan bumi dengan segala isinya. Badan lingkungan hidup dunia atau UNEP (United Nations Environment Programme) pada tahun ini UNEP menetapkan tema untuk peringatan hari lingkungan hidup adalah "Raise your voice, not the sea level". Pengambilan tema ini merupakan bagian dari penetapan tahun 2014 sebagai Tahun Internasional untuk pulau kecil negara berkembang (International Year of Small Island Developing States).
Sudut pandang berbeda dari tema global dari peringatan hari lingkungan hidup sedunia tahun ini. Untuk Indonesia menjadi penting dalam peringatan hari lingkungan hidup sedunia untuk merevitalisasi Pasal 33 ayat 3 Undang – Undang Dasar 1945. Pasal tersebut yang berbunyi Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar – besarnya kemakmuran rakyat. Konteks hari lingkungan hidup ini dengan segala kebijakan pemerintah terkait dengan Sumber Daya Alamnya seakan mengesampingkan pasal tersebut.
Di Kalimantan Selatan hari lingkungan hidup diperingati pada Selasa 17 Juni 2014 di halaman kantor Gubernur Kalsel di Banjarmasin. Peringatan ini momentun untuk memperbaiki kualitas lingkungan hidup lebih baik untuk masa depan anak cucu kita.

Sumber Daya Alam Indonesia
Berangkat dari pemahaman di atas bahwa negara kita sedang menghadapi sebuah permasalahan yang tidak mampu mengakomodasi dan merealisasikan Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang lebih menekankan kepada salah kelola SDA di Indonesia. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya salah kelola SDA ini ada disemua sektor sumber daya yang ada muali dari tanah, air, perikanan, hutan serta sumber daya energi dan mineral.
• Eksploitasi Tanah
Tanah yang merupakan sumber daya alam yang cukup lama untuk diperbaruinya juga merupakan sektor vital bagi negara ini. salah kelola sumber daya tanah ini merupakan penyebab dari kerusakan lingkungan selama ini seperti banjir, kekeringan dan lain sebagainya. Perilaku manusia dengan kebijakan yang akhirnya menjadi salah kelola sumber daya tanah ini antara lain alih fingsi tanah dari pertanian menjadi pemukiman dan pencemaran tanah seperti penggunaan lahan tanah yang diperbarui setelah digunakan sebagai tambak garam.
• Pencemaran Air
Semakin berkembangnya sebuah kota memicu perkembangan teknologi dari segala sektor kota tersebut. Pembangunan pabrik – pabrik di daerah industri dengan menyalahi aturan – aturan terkait lingkungan seperti pembuangan limbah yang tidak pro-lingkungan menjadi penyebab utama pencemaran air. Di sisi lain, masyarakat perkotaan yang memanfaatkan aliran sungai/ air sebagai pembuangan sampah akhir juga memicu semakin tercemarnya air di lingkungan sekitar. Tata kota yang buruk juga menjadi penyebab semakin sempitnya lahan dan memici penyempitan ruang untuk sungai dan segala isinya.
• Eksplotasi sektor perikanan dan kelautan yang berlebihan
Negara Indonesia adalah negara maritim, kekayaan alam kita sebagaian besar juga berasal dari laut. Kekayaan inilah yang selama ini belum mampu dimanfaatkan dengan baik. Pemanfaatan sumber daya laut dan isinya yang tidak tepat guna, akan menyebabkan kerusakan ekosistem laut, merusak laut, merusak habitat ikan dan ujungnya mengurangi populasi ikan dengan sendirinya. Eksploitasi laut ilegal seperti penggunaan pukat harimau dan sebagainya menjadi penyebab utamanya.
Disamping itu, kedaulatan laut Indonesia sangat terganggu oleh pihak lain, yang perlu menjadi perhatian serius dari pemerintah. Selama ini laut kita juga diekploitasi oleh pihak luar dengan dalih investasi hasil laut maupun proses ilegal atau pencurian hasil laut.
• Masalah Hutan
Hutan sebagai jantung hidup Indonesia bahkan dunia juga mempunya permasalahan tersendiri. Eksploitasi hutan yang berlebihan hingga alih fungsi hutan menjadi perkebunan menjadi ancaman yang cukup berarti bagi kelangsungan hidup manusia dimanapun berada.
Pemerintah menghadapi permasalahan – permasalahan hutan, terutama di luar pulau Jawa. Hutan Indonesia yang merupakan salah satu bagian dari harapan terakhir jantung dunia harus segera diselamatkan.
• Sumber Daya Energi dan Mineral tidak tepat guna
Sumber daya energi dan mineral Indonesia selama ini terjajah oleh pihak asing. Kebijakan – kebijakan pemerintah melalui undang – undang hingga peraturan – peraturannya secara tersirat tidak menjadi pendukung dari Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 ini. Tidak mendukung dalam artian selama ini sumber kekayaan alam ini tidak dikelola oleh negara dan dinikmati oleh negara lain. Contoh nyata di depan kita adalah Freeport yang mampu menghasilkan pendapatan hingga ribuan trilyunan rupiah bagi pihak asing, dan negara kita pemilik resmi tanah tersebut hanya memperoleh bagian 1% saja.
Belum terhitung dengan eksploitasi dan eksplorasi sumber energi dan mineral lainnya. Terbaru hari ini negara – negara luar atau perusahaan asing berlomba – lomba membangun smelter – smelter di Indonesia yang bagi mereka adalah bagai mendulang emas di halaman depan rumah. Untuk itu kedepan perlu pemerintah menegakan aturan yang lebih tegas, dalam hal ini meninjau ulang kontrak karya antara pemerintah dengan semua perusahaan asing yang beroperasi di dalam negeri. Selain meninjau kontrak karya tersebut, pemerintah juga wajib menata ulang Undang – Undang nomor 4 tahun 2009 tentang Minerba yang lebih pro-lingkungan dan pro-rakyat lagi.

Masalah Kita
Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar dengan 17.000 pulau yang mengisi wilayahnya. Selain itu, Indonesia juga merupakan negara dengan hutan hujan tropis terbesar ketiga dan merupakan negara dengan biodeversitas terbesar kedua setelah Brasil.
Namun sangat disayangkan bahwa dibalik kekayaan alam yang melimpah tersebut Indonesia masih banyak mengalami masalah – masalah lingkungan hidup yang bisa dibilang cukup parah. Masalah tersebut antara lain seperti masalah Air bersih, polusi udara, penebangan liar, dan sebagainya.
1. Masalah Air Bersih
Air merupakan hal yang sangatvital bagi kehidupan manusia. Tidak ada manusia yang dapat hidup tanpa air. Bahkan fakta membuktikan bahwa manusia dapat menahan lapar lebih lama daripada menahan haus. Jadi coba bayangkan apa jadinya apabila kita kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan kita. Sungguh sangat memprihatinkan bukan?
Namun hal itulah yang menimpa sebagian besar wilayah Indonesia saat ini. Menurut data dari Bank Dunia, Indonesia merupakan salah satu dari 10 negara yang memiliki persediaan air terbesar di dunia. Cadangan air tawar yang dimiliki Inonesia adalah sekitar 15.500 meter kubik per kapita per tahun. Jumlah tersebut jauh melebihi rata – rata julah ketersediaan air negara – negara lain yang hanya sekitar 8.000 meter kubik per kapita per tahun.
Namun dengan jumlah yang begitu besar, sekitar 119 juta dari total 200 juta penduduk Indonesia masih menghadapi kekurangan air bersih. Dan hanya 20% penduduk Indonesia yang bisa setiap hari memenuhi kebutuhan akan air bersih. Itu pun hanya terpusat pada daerah perkotaan terutama kota – kota besar dan daerah – daerah elit. Sedangkan presentase akses daerah pedesaan di Indonesia terhadap air bersih adalah yang paling randah di antara negara – negara Asia Tenggara. Dengan kata lain, penyebaran air bersih di Indonesia masih jauh untuk disebut merata.
Selain masalah penyebaran air, hal yang merupakan salah satu faktor penting penyebab masalah kelangkaan air bersih adalah pencemaran dan perusakan lingkungan. Jumlah dan pertumbuhan penduduk yang semakin bertambah tentunya akan kebutuhan masyarakat akan air bersih. Namun disamping meningkatnya kebutuhan tersebut, pencemaran yang dapat merusak sumber air bersih pun akan semakin meningkat.
Masyarakat pada umumnya tidak atau belum mengerti mengenai prinsip perlindungan air bersih dan penggunaan air yang bertanggungjawab. Sebagian besar masyarakat masih berpikir bahwa masalah air minum adalah urusan pemerintah atau PDAM saja tanpa membantu untuk mendukung kerja pemerintah.
2. Masalah Sampah
Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktifitas manusia maupun alam yang belum memiliki nilai ekonomis. Sampah berasal dari rumah tangga, pertanian, perkantoran, perusahaan, rumah sakit, pasar, dan sebagainya. Dengan kata lain, semakin bertambah jumlah populasi manusia, maka akan semakin banyak sampah yang dihasilkan dan lahan untuk membuang sampah – sampah tersebut tentunya harus semakin diperluas. Itulah yang menjadi permasalahn bangsa ini. Pengelolaan pembuangan sampah belum terurus dengan baik. Masih banyak kita lihat sampah – sampah yang menumpuk tanpa ada tindakan lebih lanjut untuk menangani masalah tersebut.
Memang di waktu sekarang ini yang bisa kita lakukan hanyalah menampung semua sampah pada sebuah tempat yang kita sebut sebagai TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Namun apabila sampah – sampah tersebut hanya diletakan begitu saja, justru akan menimbulkan dampak yang buruk bagi lingkungan. Selain itu, sangat sulit untuk mencari lahan kosong yang dapat digunakan sebagai tempat menampung sampah – sampah.
Beberapa negara telah menggunakan alternatif pembakaran untuk menangani masalh tersebut namun hal tersebut telah diakui dapat menyebabkan polusi udara yang sangat bernahaya bagi kehiduapan.
Selain masalah penanganan sampah, masalah kesadaran masyarakat akan pembuangan sampah juga sangat memprihatinkan. Kita banyak melihat sungai – sungai justru menjadi tempat untuk membuang sampah padahal sungai merupakan salah satu sumber air utama bagi kehidupan masyarakat. Pembuangan sampah ke saluran air dapat menyumbat saluran tersebut dan dampaknya kan cukupp besar. Selain mengancam ketersediaan air bersih, penyumbatan saluran ai juga dapat menyebabkan banjir. Apabila penyumbatan sudah parah, maka banjir yang terjadi bisa menjadi banjir yang berkepanjangan dengan kedalaman yang cukup untuk menenggelamkan sebuah rumah seperti yang sudah kita lihat beberapa tahun belakangan ini.
3. Masalah Polusi Udara
Tingkat pencemaran udara di Indonesia semakin memprihatinkan. Bahkan Bank Dunia telah menetaplkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan tingkat polusi tertinggi ketiga di dunia. World Bank juga menetapkan Jakarta sebagai kota dengan kadar polutan tertinggi setelah Beijing, New Delhi, dan Mexico City.
Dari semua penyebab polusi udara yang ada, emisi transportasi terbukti sebagai penyumbang pencemaran udara tertinggi di Indonesia, yakni sekitar 85 persen. Hal ini diakibatkan oleh laju pertumbuhan kepemilikan kendaraan bermotor yang tinggi. Sebagian besar kendaraan bermotor itu menghasilkan emisi gas buang yang buruk, baik akibat perawatan yang kurang memadai ataupun dari penggunaan bahan bakar dengan kualitas kurang baik (misalnya kadar timbal yang tinggi).
Selain itu, minimnya pengolahan asap pabrik juga turut menyumbang jumlah polutan yang memenuhi udara Indonesia terutama di kota- kota besar. Di daerah – daerah yang menjadi kawasan industri dapat kita rasakan keadaan udara yang sesak, panas, pengap, dan berbau bahan kimia. Kebakaran hutan juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan polusi udara.
Polusi udara sangatlah berbahaya bagi tubuh manusia. Partikel – partikel yang menjadi polutan memiliki ukuran yang lebih kecil dari debu sehingga lebnih mudah masuk dan menempel di tubuh kita. Contohnya adalah gas CO (karbon monoksida) yang dapat menghambat kierja sel darah merah dalam mengangkut O2 (Oksigen) sehingga dapat mengakibatkan tubuh kekurangan oksigen yang dapat mendorong timbulnya berbagai macam penyakit. Selain itu kadar Pb (timbal) yang tinggi di udara juga dapat merusak sel darah merah bagi orang yang menghirupnya sehinggadapat menyebabkan penyakit anemia.
Polusi udara juga sangat berdampak bagi lingkungan. Kadar SO2 dan NO2 yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya hujan asam yang dapat merusak sumber air, membunuh organisme – organisme kecil dan pepohonan. Hujan asam juga sangat berbahaya bagi manusia apabila terkena kulit karena asam merupakan senyawa yang bersifat korosif atau mengikis.
4. Penebangan Liar
Hutan merupakan salah satu aspek yang paling penting dalam menjaga kestabilan ekosistem dan kehidupan di bumi. Hutan merupakan sumber penghasil oksigen terbesar dan merupakan habitat bagi banyak makhluk hidup di bimi ini.
Namun Indonesia, negara yang memiliki luas hutan tropis terbesar ketiga di dunia, merupakan salah satu negara dengan kasus illegal logging terbesar. Menurut data dari Dinas Kehutanan, Indonesia telah kehilangan 3,8 juta hektar hutan setiap tahunnya dan sebagian besar disebabkan oleh praktek illegal logging. Selain itu, kondisi mengenaskan lainnya adalah terdapat 59 juta hektar hutan yang rusak dari total 120 juta hektar wilayah hutan di Indonesia. Berarti hanya 50% hutan di Indonesia yang dapat dikatakan berfungsi secara optimal.
Praktek pembalakan liar dan eksploitasi hutan yang tidak bertanggung jawab ini telah mengakibatkan kehancuran sumber daya hutan yang tidak ternilai harganya, kehancuran kehidupan masyarakat dan kehilangan kayu senilai US$ 5 milyar, diantaranya berupa pendapatan negara kurang lebih US$1.4 milyar setiap tahun. Kerugian tersebut belum menghitung hilangnya nilai keanekaragaman hayati serta jasa-jasa lingkungan yang dapat dihasilkan dari sumber daya hutan. Badan Penelitian Departemen Kehutanan menunjukan angka Rp. 83 milyar perhari sebagai kerugian finansial akibat penebangan liar
Selain kerugian finansial, kerugian lingkungan pun sangatlah besar akibat dari pembalakan hutan secara liar tersebut. Hutan merupakan penyedia oksigen bagi bumi ini. Apabila luas hutan berkurang sementara populasi manusia terus bertambah, tentu saja akan terjadi krisis oksigen di bumi ini dan kita tidak akan mau haseperti itu terjadi. Selain itu, hutan juga berfungsi untuk menjaga tanah dari erosi yang dapat menghilangkan kesuburan tanah dan untuk mencegah terjadinya tanah longsor.
Pertumbuhan penduduk yang tinggi memang menyebabkan bertambahnya kompleksitas permasalahan lingkungan hidup di muka bumi ini. Perilaku konsumsi, pola produksi, dan distribusi sumber daya alam antar negara selalu berubah, sedangkan kualitas dan kuantitas lingkungan sebagai penyangga kehidupan manusia juga cenderung menurun. Secara teknis, masalah lingkungan yang krusial bagi kehidupan manusia adalah hal-hal yang terkait dengan pangan, energi, dan air.
Sebagai negara berkembang, Indonesia mengalami persoalan-persoalan terkait dengan pangan, energi, dan air, bahkan persoalan tersebut seringkali dikaitkan dengan isu-isu perubahan iklim dan pemanasan global.
Pengaruh-pengaruh isu global seringkali mendominasi cara berpikir pembuat kebijakan untuk menangani berbagai masalah lingkungan di Indonesia. Jika dicermati lebih jauh, Indonesia memiliki potensi produksi pangan beragam dengan dukungan sumber daya lahan yang luas. Contohnya, kita memiliki lahan hutan produksi yang potensial sebagai lumbung pangan seluas ± 56 juta hektar (Kemenhut 2012). Apabila setengah dari luasan tersebut dapat dikembangkan menjadi kawasan agroforestry, maka diperkirakan akan mampu memproduksi minimal 560 juta ton pangan dari berbagai komoditi seperti padi ladang, jagung, ubi kayu, sagu, dan lain sebagainya.
Kekhawatiran krisis air juga bertentangan dengan kenyataan potensi sumber daya air di Indonesia. Pada umumnya, wilayah Indonesia memiliki cadangan air tawar 6 % dari cadangan dunia atau sekitar 21 % dari cadangan air di wilayah Asia Pasifik.
Ketersediaan air di Indonesia sangat tinggi karena tingginya curah hujan dan potensi ketersediaan air permukaan dan air bawah tanah (Kementerian Lingkungan Hidup 2010). Dengan potensi yang besar tersebut seharusnya Indonesia tidak sulit memenuhi kebutuhan air masa datang. Bappenas (2010) menghitung air permukaan sebesar 2,746,564 x106 m3/tahun dan air tanah sebesar 4,700 x106 m3/th, sehingga total sebesar 2,751.264 x 106 m3/tahun atau 691,341 x106 m3/tahun total air yang diperhitungkan dan rata-rata ketersediaan air adalah 3,138.6 m3/tahun/kapita. Itu artinya bahwa rata-rata potensi konsumsi air masyarakat Indonesia lebih dari dua kali rata-rata konsumsi dunia, yang tentunya dapat melebihi rata-rata konsumsi air negara maju.
Sumber daya energi Indonesia juga sangat beragam dan cadangan energi yang paling banyak tersedia adalah energi bahan bakar non-fosil. Apabila kita menggunakan rencana aksi konsumsi energi Indonesia yang dikeluarkan Bappenas (2010), diperkirakan konsumsi energi kita tahun 2025 baru mencapai 12 setara barrel minyak/kapita/tahun. Perkiraan tersebut dapat dianggap sebagai sebuah perkiraan yang underestimated.
Perhitungan sederhana, hutan produksi dapat dimanfaatkan secara lestari menghasilkan produksi kayu bulat sekitar 94 juta m3 dengan daur 35 tahun. Karena rendemen kayu yang cukup besar pada saat penebangan dan pengolahan di sawmill, kayu bulat sebanyak itu dapat diprediksi mampu menghasilkan 1.5 milyar setara barel minyak pada tahun 2025 dengan asumsi hanya 50 % sisa kayu dari sawmill yang kita olah menjadi pelet kayu. Artinya, dengan pemanfaatan teknologi pelet kayu maka konsumsi energi Indonesia dapat ditingkatkan menjadi 18 setara barrel minyak/kapita/tahun. Hasil yang lebih signifikan dapat kita capai bila sumber energi dari air, panas bumi, gelombang laut, dan energi baru terbarukan lainnya dapat dioptimalkan.
Fakta tersebut di atas merupakan argumentasi yang dapat mementahkan kekhawatiran krisis pangan, energi, dan air di Indonesia dari sudut pandang kuantitas sumber daya yang dimiliki. Eksploitasi sumber daya alam tentunya akan memberikan dampak negatif dari sisi kualitas sumber daya alam itu sendiri. Kita seringkali menemukan fakta menurunnya kualitas air danau, kualitas udara di perkotaan, pencemaran tanah akibat penggunaan bahan kimia di lahan pertanian, dan sebagainya. Besaran dampak tersebut sangat tergantung pada pola dan perilaku konsumsi, produksi, dan distribusi sumber daya alam yang dilakukan. Pada sisi inilah dominansi paradigma sustainable development menjadi sebuah pilihan.
Sebenarnya, masalah-masalah lingkungan di Indonesia adalah masalah-masalah yang berkaitan dengan masalah-masalah kebijakan, antara lain: apa orientasi kebijakan itu sendiri, bagaimana prinsip keadilan dijalankan, sudahkah hukum ditegakkan, dan mampukah kebijakan lingkungan mengendalikan dinamika perilaku konsumsi, produksi, dan distribusi sumber daya alam.
Banyak kita temui instrumen kebijakan seperti peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup tidak sesuai dengan rentang manajemen sumber daya alam itu sendiri, mulai dari perencanaan, kelembagaan, pelaksanaan, sampai pengendaliannya. Contoh paling nyata adalah penyusunan Analisis mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). AMDAL dapat dinilai gagal dalam mendorong perilaku usaha yang ramah lingkungan karena ternyata banyak juga usahawan yang tidak mempedomani AMDAL dalam manajemen usahanya. Bahkan AMDAL telah dijadikan sebagai alat legitimasi usaha-usaha yang memiliki potensi konflik sosial yang tinggi.

Masalah-masalah kebijakan lingkungan sudah muncul pada saat perumusan kebijakan itu sendiri. Sidney (2007:79) menyatakan bahwa perumusan kebijakan merupakan tahapan penting dalam proses kebijakan karena proses ini juga mengekspresikan dan mengalokasikan kekuasaan diantara kepentingan sosial, politik, dan ekonomi yang ada. Perumusan kebijakan di Indonesia seringkali didominasi oleh kepentingan politik yang menganut paham kapitalisme ekonomi.
Kinerja kelembagaan pengelolaan lingkungan hidup juga menjadi persoalan. Selama ini, pengelolaan lingkungan hidup mulai dari perencanaan sampai pengendalian lebih didominasi oleh birokrat pemerintah. IDS (2006:13) menyatakan bahwa birokrat bukanlah eksekutor kebijakan yang netral karena mereka memiliki agenda politik sendiri.
Dengan demikian, wajar bila kita sering melihat terjadinya benturan kepentingan pengelolaan sumber daya alam antara pemerintah dan masyarakat. Pada sisi yang lain, korporasi pun memiliki kepentingan sendiri yang cenderung melawan arus kepentingan masyarakat, sehingga kekuatan pemerintah dan korporasi seringkali berupaya merusak sistem sosial masyarakat agar dapat menguasai sumber daya alam.
Orientasi perumusan kebijakan yang memihak dan bersifat top down serta kelembagaan yang tumpul menyebabkan implementasi kebijakan lingkungan hidup di Indonesia masih "jauh panggang dari api". Sebagai contoh, pembangunan wilayah perkotaan telah menciptakan masyarakat perkotaan yang konsumtif sehingga produk-produk impor menjadi merajalela. Akibatnya, kebijakan penggunaan produk lokal menjadi kebijakan "lip service" bernuansa "nasionalisme semu". Contoh lain, masyarakat Mentawai yang terkena tsunami baru bisa mendapatkan rumah yang layak pada areal relokasi dalam kawasan hutan setelah 2 tahun kejadian bencana alam tersebut. Hal ini disebabkan pemerintah setempat tidak berani mengambil kebijakan mendasar karena implementasi kebijakan kehutanan yang bersifat top down. Seperti yang diungkapkan oleh Pülzl dan Treib (2007:94), karakter proses implementasi kebijakan yang bersifat top down selalu membutuhkan panduan secara hirarki. Artinya, selama pedoman dari pemerintah pusat belum ada maka tindakan operasional belum dapat diambil, meskipun dalam kondisi bencana alam sekalipun.
Ketika perencanaan, kelembagaan, dan implementasi kebijakan lingkungan mengandung banyak kepentingan maka upaya pengendalian (termasuk penegakan hukum) juga menurut kepentingan yang dominan. Seringkali kasus-kasus pencemaran air sungai terbukti menyebabkan gangguan kesehatan pada masyarakat sekitarnya, namun seringkali juga penegakan hukum baru berjalan ketika gangguan kesehatan itu sudah semakin akut. Di Indonesia, penegak hukum tidak mampu menegakkan aturan karena ternyata usaha-usaha di bidang pertambangan banyak yang dibekingi oleh penegak hukum itu sendiri.
Masalah lingkungan semakin lama semakin besar, meluas, dan serius. Ibarat bola salju yang menggelinding, semakin lama semakin besar. Persoalannya bukan hanya bersifat lokal atau translokal, tetapi regional, nasional, trans-nasional, dan global. Dampak-dampak yang terjadi terhadap lingkungan tidak hanya berkait pada satu atau dua segi saja, tetapi kait mengait sesuai dengan sifat lingkungan yang memiliki multi mata rantai relasi yang saling mempengaruhi secara subsistem. Apabila satu aspek dari lingkungan terkena masalah, maka berbagai aspek lainnya akan mengalami dampak atau akibat pula.
Pada mulanya masalah lingkungan hidup merupakan masalah alami, yakni peristiwa-peristiwa yang terjadi sebagai bagian dari proses natural. Proses natural ini terjadi tanpa menimbulkan akibat yang berarti bagi tata lingkungan itu sendiri dan dapat pulih kemudian secara alami (homeostasi).
Akan tetapi, sekarang masalah lingkungan tidak lagi dapat dikatakan sebagai masalah yang semata-mata bersifat alami, karena manusia memberikan faktor penyebab yang sangat signifikan secara variabel bagi peristiwa-peristiwa lingkungan. Tidak bisa disangkal bahwa masalah-masalah lingkungan yang lahir dan berkembang karena faktor manusia jauh lebih besar dan rumit (complicated) dibandingkan dengan faktor alam itu sendiri. Manusia dengan berbagai dimensinya, terutama dengan faktor mobilitas pertumbuhannya, akal pikiran dengan segala perkembangan aspek-aspek kebudayaannya, dan begitu juga dengan faktor proses masa atau zaman yang mengubah karakter dan pandangan manusia, merupakan faktor yang lebih tepat dikaitkan kepada masalah-masalah lingkungan hidup.
Oleh karena itu, persoalan-persoalan lingkunganm seperti krusakan sumber-daya alam, penyusutan cadangan-cadangan hutan, musnahnya berbagai spesies hayati, erosi, banjir, bahkan jenis-jenis penyakit yang berkembang terakhir ini, diyakini merupakan gejala-gejala negatif yang secara dominan bersumber dari faktor manusia itu sendiri. jadi, beralasan jika dikatakan, di mana ada masalah lingkungan maka di situ ada manusia.
Terhadap masalah-masalah lingkungan seperti pencemaran, banjir, tanah longsor, gaga! panen karena harna, kekeringan, punahnya berbagai spesies binatang langka, lahan menjadi tandus, gajah dan harimau mengganggu perkampungan penduduk, dan lain-lainnya, dalam rangka sistem pencegahan (preventive) dan penanggulangan (repressive) yang dilakukan untuk itu, tidak akan efektif jika hanya ditangani dengan paradigma fisik, ilmu pengetahuan dan teknologi, atau ekonomi. Tetapi karena faktor tadi, paradigma solusinya harus pula melibatkan semua aspek humanistis. Maka dalam hal ini, peran ilmu-ilrnu humaniora seperti sosiologi, antropologi, psikologi, hukum, kesehatan, religi, etologi, dan sebagainya sangat strategis dalam pendekatan persoalan lingkungan hidup.

Pesan Pemerintah
Tema Peringatan Lingkungan Hidup adalah "raise your voice, not the sea level". Di indonesia disesuaikan menjadi "satukan langkah, lindungi ekosistem pesisir dari dampak perubahan iklim".
Tema ini sangat relevan, karena selain sebagai negara kepulauan dengan 13.466 pulau, dan dengan panjang pesisir 95.181 km, tempat bermukim 60 % penduduk dan menyumbang 6,45 % gdp nasional.
Selain itu pesisir mempunyai potensi sda yang sangat menakjubkan yaitu 14 % terumbu karang dunia, 27 % mangrove dunia, serta 25 % ikan dunia, dengan berbagai biota yang hidup didalamnya.
Bahkan disebut, sebagai marine mega-biodiversity terbesar di dunia, karena memiliki 8.500 species ikan, 555 species rumput laut dan 950 species biota terumbu karang.
Mneurut Menteri Lingkungan Hidup RI Prof. Dr. Balthasar kambuaya, MBA potensi yang besar tersebut harus dikelola secara optimal bagi kemakmuran rakyat dengan cara yang lestari, serta terus dilindungi dari kerusakan lingkungan yang menyebabkan penurunan potensinya.
Salah satu penyebab kerusakan lingkungan yang perlu diantisipasi adalah perubahan iklim. Perubahan iklim akibat pemanasan global memberi berbagai dampak terhadap kehidupan di muka bumi, kondisi ini ditandai dengan meningkatnya frekuensi hujan dengan instensitas yang sangat tinggi, ketidakpastian musim hujan maupun kemarau, dan munculnya berbagai bencana seperti kekeringan, badai, banjir dan longsor.
Pada wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, dampak yang timbul berupa badai, banjir dan kenaikan permukaan air laut.
Pada sektor pertanian, akibat kekeringan, banjir dan perubahan pola hujan, menyebabkan penurunan 2 % produksi pertanian pada dekade ini. Pada sektor perikanan akibat perubahan keseimbangan unsur kimia di lautan, menyebabkan berbagai ikan di daerah tropis mengalami kematian.
Dalam mengatasi perubahan iklim, pemerintah telah menetapkan kebijakan berupa penurunan emisi dari kondisi business as usual pada tahun 2020 sebesar 26 %, dengan usaha sendiri dan 41 % dengan dukungan negara lain.
Untuk itu, perlu dikembangkan berbagai kebijakan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, antara lain, melalui peraturan presiden nomor: 61 tahun 2011 tentang rencana aksi nasional penurunan gas rumah kaca, serta peraturan presiden nomor: 71 tahun 2011 tentang penyelenggaran inventarisasi gas rumah kaca nasional, yang seiring dengan uu nomor: 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Apabila saat ini, masih ditemukan berbagai bencana ekologis disekitar kita, maka hal itu disebabkan oleh pemanfaatan sumberdaya alam yang tidak berwawasan lingkungan hidup.
Oleh karenanya, kata Menteri, perlu dilakukan koreksi mendalam agar pengelolaan dan pemanfaatannya dapat mensejahterakan masyarakat dan tidak menimbulkan bencana.
Konsep pembangunan berkelanjutan yang merupakan keseimbangan, antara pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan hidup, merupakan satu-satunya pilihan yang wajib kita wujudkan.
Adalah sangat tepat, ketika pemerintah mencanangkan strategi kebijakan pro job, pro poor, pro growth, dan pro environment, karena pertumbuhan ekonomi semata, tanpa memperhatikan aspek pelestarian fungsi lingkungan dan manusia didalamnya, ternyata telah mengakibatkan timbulnya kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup.
Pergeseran paradigma mulai berkembang dimana konsep "ekonomi hijau" (green economy)" dan pembangunan rendah karbon, sudah berada dalam kisaran arus utama pembangunan.
Dalam dokumen "the future we want" yang dihasilkan pada konferensi rio+20, agenda ekonomi hijau telah menjadi pilihan utama.
Perubahan paradigma ekonomi hijau tersebut, direspon oleh indonesia melalui berbagai inisiatif dan aturan perundang-undangan. Undang-undang nomor: 32 tahun 2009, telah memberikan ruang yang cukup luas, untuk mengembangkan ekonomi hijau, melalui instrumen-instrumen ekonomi lingkungan.
Selain komitmen pemerintah, keterlibatan semua pemangku kepentingan adalah kunci keberhasilannya.
Perwujudan kerja sama yang harmonis dan proporsional, antara pemerintah, swasta dan masyarakat merupakan pilar penting dalam pembangunan lingkungan hidup.
Pemerintah dituntut, menyusun program pro rakyat serta memfasilitasi kebutuhan rakyat tetapi dilain pihak masyarakat dibutuhkan keterlibatannya, dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Masyarakat perlu didorong, melakukan upaya-upaya sederhana menuju budaya ramah lingkungan (green lifestyle), seperti menghemat penggunaan listrik dan air, menanam dan memelihara pohon, mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, serta menerapkan konsep 3 r (reduce, reuse dan recycle) dalam mengelola sampah.

Peringatan hari lingkungan hidup tahun 2014 ini, memang menjadi refleksi bagi pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup secara lebih konsisten, dengan komitmen yang lebih tinggi.
Sumber daya alam yang kita miliki perlu dikelola untuk masyarakat, dengan tidak hanya mempertimbangkan generasi masa kini, tetapi juga generasi yang akan datang. Pengelolaan lingkungan hidup mendorong pemanfaatan sda secara arif.
Dan untuk itu, Menteri mengingatkan bahwa sesuai tema hari lingkungan hidup tahun ini, maka perhatian terhadap kerusakan, serta dampak perubahan iklim terhadap ekosistem pesisir menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Kesamaan pandang dan langkah, antara pemerintah dan pemerintah daerah, perlu lebih ditingkatkan, demikian halnya dengan keterlibatan masyarakat dan dunia swasta.
Kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup, serta pengelolaan sda yang tidak berkelanjutan, dapat mengganggu ketahanan lingkungan hidup, yang pada akhirnya akan mengancam peri kehidupan masyarakat.
Ketahanan lingkungan hidup adalah kunci untuk menjaga jasa ekosistem dan menghindari dari bencana lingkungan, khususnya dampak perubahan iklim.
Ketahanan lingkungan, meliputi upaya pemulihan/perbaikan lingkungan, dan pengelolaan sumberdaya, dengan mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lingkungannya, sehingga tercapai stabilitas ekonomi dan sosial, secara berkelanjutan.
MLH berharap dengan komitmen dan kerjasama, agar meningkatkan kualitas lingkungan hidup indonesia, temasuk wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Semoga peringan lingkugan hidup tahun ini menjadi sarana refleksi dan kontemplasi berbagai pihak untuk merawat dan menjaga lingkungan kita tetap hijau dan bersahabat dengan alam.
Pemerintah Provinsi Kalimantan sudah berupaya keras mewujudkan pengelolaan lingkungan hidup secara baik, baik melalui program yang ada Dinas Kehutanan, Badan Lingkungan Hidup, Pertambangan Energi Kalsel dan stakeholder terkait. Memang masih banyak problem lingkungan yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. (muhari)

 

SATUKAN LANGKAH MENJAGA LINGKUNGAN

( REFLEKSI PERINGATAN LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA SEDUNIA TAHUN 2014)

Oleh Muhari

(penulis Staf Biro Humas Setda Prov Kalsel-Praktisi Humas /Radio)

Peringatan hari lingkungan hidup sedunia (World Environment Day) yang rutin diselenggarakan tiap tanggal 5 Juni merupakan program untuk meningkatkan kesdaran global akan pentingnya tindakan lingkungan yang positif bagi seluruh manusia di dunia. Hari lingkungan hidup sedunia ditetapkan sejak pembukaan konferensi lingkungan hidup sedunia di sidang umum PBB di Stockholm 5 – 16 Juni 1972. Hari lingkungan hidup sedunia memberikan ruang bagi seluruh penduduk bumi untuk menjadi bagian aksi global dalam mengkampanyekan proteksi terhadap planet bumi, pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan serta gaya hidup yang ramah lingkungan.

            Tahun 2014 ini hari lingkungan hidup sedunia tentu juga diperingati oleh seluruh negara – negara di dunia yang peduli akan keberlangsungan bumi dengan segala isinya. Badan lingkungan hidup dunia atau UNEP (United Nations Environment Programme) pada tahun ini UNEP menetapkan tema untuk peringatan hari lingkungan hidup adalah Raise your voice, not the sea level”. Pengambilan tema ini merupakan bagian dari penetapan tahun 2014 sebagai Tahun Internasional untuk pulau kecil negara berkembang (International Year of Small Island Developing States).

            Sudut pandang berbeda dari tema global dari peringatan hari lingkungan hidup sedunia tahun ini. Untuk Indonesia menjadi penting dalam peringatan hari lingkungan hidup sedunia untuk merevitalisasi Pasal 33 ayat 3 Undang – Undang Dasar 1945. Pasal tersebut yang berbunyi Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar – besarnya kemakmuran rakyat. Konteks hari lingkungan hidup ini dengan segala kebijakan pemerintah terkait dengan Sumber Daya Alamnya seakan mengesampingkan pasal tersebut.

            Di Kalimantan Selatan hari lingkungan hidup diperingati pada Selasa 17 Juni 2014 di halaman kantor Gubernur Kalsel di Banjarmasin.  Peringatan ini momentun untuk memperbaiki kualitas lingkungan hidup lebih baik untuk masa depan anak cucu kita.

Sumber Daya Alam Indonesia 

            Berangkat dari pemahaman di atas bahwa negara kita sedang menghadapi sebuah permasalahan yang tidak mampu mengakomodasi dan merealisasikan Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang lebih menekankan kepada salah kelola SDA di Indonesia. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya salah kelola SDA ini ada disemua sektor sumber daya yang ada muali dari tanah, air, perikanan, hutan serta sumber daya energi dan mineral.

  • Eksploitasi Tanah

Tanah yang merupakan sumber daya alam yang cukup lama untuk diperbaruinya juga merupakan sektor vital bagi negara ini. salah kelola sumber daya tanah ini merupakan penyebab dari kerusakan lingkungan selama ini seperti banjir, kekeringan dan lain sebagainya. Perilaku manusia dengan kebijakan yang akhirnya menjadi salah kelola sumber daya tanah ini antara lain alih fingsi tanah dari pertanian menjadi pemukiman dan pencemaran tanah seperti penggunaan lahan tanah yang diperbarui setelah digunakan sebagai tambak garam.

  • Pencemaran Air

Semakin berkembangnya sebuah kota memicu perkembangan teknologi dari segala sektor kota tersebut. Pembangunan pabrik – pabrik di daerah industri dengan menyalahi aturan – aturan terkait lingkungan seperti pembuangan limbah yang tidak pro-lingkungan menjadi penyebab utama pencemaran air. Di sisi lain, masyarakat perkotaan yang memanfaatkan aliran sungai/ air sebagai pembuangan sampah akhir juga memicu semakin tercemarnya air di lingkungan sekitar. Tata kota yang buruk juga menjadi penyebab semakin sempitnya lahan dan memici penyempitan ruang untuk sungai dan segala isinya.

  • Eksplotasi sektor perikanan dan kelautan yang berlebihan

Negara Indonesia adalah negara maritim, kekayaan alam kita sebagaian besar juga berasal dari laut. Kekayaan inilah yang selama ini belum mampu dimanfaatkan dengan baik. Pemanfaatan sumber daya laut dan isinya yang tidak tepat guna, akan menyebabkan kerusakan ekosistem laut, merusak laut, merusak habitat ikan dan ujungnya mengurangi populasi ikan dengan sendirinya. Eksploitasi laut ilegal seperti penggunaan pukat harimau dan sebagainya menjadi penyebab utamanya.

Disamping itu, kedaulatan laut Indonesia sangat terganggu oleh pihak lain, yang perlu menjadi perhatian serius dari pemerintah. Selama ini laut kita juga diekploitasi oleh pihak luar dengan dalih investasi hasil laut maupun proses ilegal atau pencurian hasil laut.

  • Masalah Hutan

Hutan sebagai jantung hidup Indonesia bahkan dunia juga mempunya permasalahan tersendiri. Eksploitasi hutan yang berlebihan hingga alih fungsi hutan menjadi perkebunan menjadi ancaman yang cukup berarti bagi kelangsungan hidup manusia dimanapun berada.

Pemerintah menghadapi permasalahan – permasalahan hutan, terutama di luar pulau Jawa. Hutan Indonesia yang merupakan salah satu bagian dari harapan terakhir jantung dunia harus segera diselamatkan.

  • Sumber Daya Energi dan Mineral tidak tepat guna

Sumber daya energi dan mineral Indonesia selama ini terjajah oleh pihak asing.  Kebijakan – kebijakan pemerintah melalui undang – undang hingga peraturan – peraturannya secara tersirat tidak menjadi pendukung dari Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 ini. Tidak mendukung dalam artian selama ini sumber kekayaan alam ini tidak dikelola oleh negara dan dinikmati oleh negara lain. Contoh nyata di depan kita adalah Freeport yang mampu menghasilkan pendapatan hingga ribuan trilyunan rupiah bagi pihak asing, dan negara kita pemilik resmi tanah tersebut hanya memperoleh bagian 1% saja.

Belum terhitung dengan eksploitasi dan eksplorasi sumber energi dan mineral lainnya. Terbaru hari ini negara – negara luar atau perusahaan asing berlomba – lomba membangun smeltersmelter di Indonesia yang bagi mereka adalah bagai mendulang emas di halaman depan rumah. Untuk itu kedepan perlu pemerintah menegakan aturan yang lebih tegas, dalam hal ini meninjau ulang kontrak karya antara pemerintah dengan semua perusahaan asing yang beroperasi di dalam negeri. Selain meninjau kontrak karya tersebut, pemerintah juga wajib menata ulang Undang – Undang nomor 4 tahun 2009 tentang Minerba yang lebih pro-lingkungan dan pro-rakyat lagi.

 

Masalah Kita

Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar dengan 17.000 pulau yang mengisi wilayahnya. Selain itu, Indonesia juga merupakan negara dengan hutan hujan tropis terbesar ketiga dan merupakan negara dengan biodeversitas terbesar kedua setelah Brasil.

Namun sangat disayangkan bahwa dibalik kekayaan alam yang melimpah tersebut Indonesia masih banyak mengalami masalah – masalah lingkungan hidup yang bisa dibilang cukup parah. Masalah tersebut antara lain seperti masalah Air bersih, polusi udara, penebangan liar, dan sebagainya.

1. Masalah Air Bersih 

Air merupakan hal yang sangatvital bagi kehidupan manusia. Tidak ada manusia yang dapat hidup tanpa air. Bahkan fakta membuktikan bahwa manusia dapat menahan lapar lebih lama daripada menahan haus. Jadi coba bayangkan apa jadinya apabila kita kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan kita. Sungguh sangat memprihatinkan bukan?

Namun hal itulah yang menimpa sebagian besar wilayah Indonesia saat ini. Menurut data dari Bank Dunia, Indonesia merupakan salah satu dari 10 negara yang memiliki persediaan air terbesar di dunia. Cadangan air tawar yang dimiliki Inonesia adalah sekitar 15.500 meter kubik per kapita per tahun. Jumlah tersebut jauh melebihi rata – rata julah ketersediaan air negara – negara lain yang hanya sekitar 8.000 meter kubik per kapita per tahun.

Namun dengan jumlah yang begitu besar, sekitar 119 juta dari total 200 juta penduduk Indonesia masih menghadapi kekurangan air bersih. Dan hanya 20% penduduk Indonesia yang bisa setiap hari memenuhi kebutuhan akan air bersih. Itu pun hanya terpusat pada daerah perkotaan terutama kota – kota besar dan daerah – daerah elit. Sedangkan presentase akses daerah pedesaan di Indonesia terhadap air bersih adalah yang paling randah di antara negara – negara Asia Tenggara. Dengan kata lain, penyebaran air bersih di Indonesia masih jauh untuk disebut merata.

Selain masalah penyebaran air, hal yang merupakan salah satu faktor penting penyebab masalah kelangkaan air bersih adalah pencemaran dan perusakan lingkungan. Jumlah dan pertumbuhan penduduk yang semakin bertambah tentunya akan kebutuhan masyarakat akan air bersih. Namun disamping meningkatnya kebutuhan tersebut, pencemaran yang dapat merusak sumber air bersih pun akan semakin meningkat.

Masyarakat pada umumnya tidak atau belum mengerti mengenai prinsip perlindungan air bersih dan penggunaan air yang bertanggungjawab. Sebagian besar masyarakat masih berpikir bahwa masalah air minum adalah urusan pemerintah atau PDAM saja tanpa membantu untuk mendukung kerja pemerintah.

2. Masalah Sampah 

Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktifitas manusia maupun alam yang belum memiliki nilai ekonomis. Sampah berasal dari rumah tangga, pertanian, perkantoran, perusahaan, rumah sakit, pasar, dan sebagainya. Dengan kata lain, semakin bertambah jumlah populasi manusia, maka akan semakin banyak sampah yang dihasilkan dan lahan untuk membuang sampah – sampah tersebut tentunya harus semakin diperluas. Itulah yang menjadi permasalahn bangsa ini. Pengelolaan pembuangan sampah belum terurus dengan baik. Masih banyak kita lihat sampah – sampah yang menumpuk tanpa ada tindakan lebih lanjut untuk menangani masalah tersebut.

Memang di waktu sekarang ini yang bisa kita lakukan hanyalah menampung semua sampah pada sebuah tempat yang kita sebut sebagai TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Namun apabila sampah – sampah tersebut hanya diletakan begitu saja, justru akan menimbulkan dampak yang buruk bagi lingkungan. Selain itu, sangat sulit untuk mencari lahan kosong yang dapat digunakan sebagai tempat menampung sampah – sampah.

Beberapa negara telah menggunakan alternatif pembakaran untuk menangani masalh tersebut namun hal tersebut telah diakui dapat menyebabkan polusi udara yang sangat bernahaya bagi kehiduapan.

Selain masalah penanganan sampah, masalah kesadaran masyarakat akan pembuangan sampah juga sangat memprihatinkan. Kita banyak melihat sungai – sungai justru menjadi tempat untuk membuang sampah padahal sungai merupakan salah satu sumber air utama bagi kehidupan masyarakat. Pembuangan sampah ke saluran air dapat menyumbat saluran tersebut dan dampaknya kan cukupp besar. Selain mengancam ketersediaan air bersih, penyumbatan saluran ai juga dapat menyebabkan banjir. Apabila penyumbatan sudah parah, maka banjir yang terjadi bisa menjadi banjir yang berkepanjangan dengan kedalaman yang cukup untuk menenggelamkan sebuah rumah seperti yang sudah kita lihat beberapa tahun belakangan ini.

3. Masalah Polusi Udara 

Tingkat pencemaran udara di Indonesia semakin memprihatinkan. Bahkan Bank Dunia telah menetaplkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan tingkat polusi tertinggi ketiga di dunia. World Bank juga menetapkan Jakarta sebagai kota dengan kadar polutan tertinggi setelah Beijing, New Delhi, dan Mexico City.

Dari semua penyebab polusi udara yang ada, emisi transportasi terbukti sebagai penyumbang pencemaran udara tertinggi di Indonesia, yakni sekitar 85 persen. Hal ini diakibatkan oleh laju pertumbuhan kepemilikan kendaraan bermotor yang tinggi. Sebagian besar kendaraan bermotor itu menghasilkan emisi gas buang yang buruk, baik akibat perawatan yang kurang memadai ataupun dari penggunaan bahan bakar dengan kualitas kurang baik (misalnya kadar timbal yang tinggi).

Selain itu, minimnya pengolahan asap pabrik juga turut menyumbang jumlah polutan yang memenuhi udara Indonesia terutama di kota- kota besar. Di daerah – daerah yang menjadi kawasan industri dapat kita rasakan keadaan udara yang sesak, panas, pengap, dan berbau bahan kimia. Kebakaran hutan juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan polusi udara.

Polusi udara sangatlah berbahaya bagi tubuh manusia. Partikel – partikel yang menjadi polutan memiliki ukuran yang lebih kecil dari debu sehingga lebnih mudah masuk dan menempel di tubuh kita. Contohnya adalah gas CO (karbon monoksida) yang dapat menghambat kierja sel darah merah dalam mengangkut O2 (Oksigen) sehingga dapat mengakibatkan tubuh kekurangan oksigen yang dapat mendorong timbulnya berbagai macam penyakit. Selain itu kadar Pb (timbal) yang tinggi di udara juga dapat merusak sel darah merah bagi orang yang menghirupnya sehinggadapat menyebabkan penyakit anemia.

Polusi udara juga sangat berdampak bagi lingkungan. Kadar SO2 dan NO2 yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya hujan asam yang dapat merusak sumber air, membunuh organisme – organisme kecil dan pepohonan. Hujan asam juga sangat berbahaya bagi manusia apabila terkena kulit karena asam merupakan senyawa yang bersifat korosif atau mengikis.

4. Penebangan Liar 

Hutan merupakan salah satu aspek yang paling penting dalam menjaga kestabilan ekosistem dan kehidupan di bumi. Hutan merupakan sumber penghasil oksigen terbesar dan merupakan habitat bagi banyak makhluk hidup di bimi ini.

Namun Indonesia, negara yang memiliki luas hutan tropis terbesar ketiga di dunia, merupakan salah satu negara dengan kasus illegal logging terbesar. Menurut data dari Dinas Kehutanan, Indonesia telah kehilangan 3,8 juta hektar hutan setiap tahunnya dan sebagian besar disebabkan oleh praktek illegal logging. Selain itu, kondisi mengenaskan lainnya adalah terdapat 59 juta hektar hutan yang rusak dari total 120 juta hektar wilayah hutan di Indonesia. Berarti hanya 50% hutan di Indonesia yang dapat dikatakan berfungsi secara optimal.

Praktek pembalakan liar dan eksploitasi hutan yang tidak bertanggung jawab ini telah mengakibatkan kehancuran sumber daya hutan yang tidak ternilai harganya, kehancuran kehidupan masyarakat dan kehilangan kayu senilai US$ 5 milyar, diantaranya berupa pendapatan negara kurang lebih US$1.4 milyar setiap tahun. Kerugian tersebut belum menghitung hilangnya nilai keanekaragaman hayati serta jasa-jasa lingkungan yang dapat dihasilkan dari sumber daya hutan. Badan Penelitian Departemen Kehutanan menunjukan angka Rp. 83 milyar perhari sebagai kerugian finansial akibat penebangan liar

Selain kerugian finansial, kerugian lingkungan pun sangatlah besar akibat dari pembalakan hutan secara liar tersebut. Hutan merupakan penyedia oksigen bagi bumi ini. Apabila luas hutan berkurang sementara populasi manusia terus bertambah, tentu saja akan terjadi krisis oksigen di bumi ini dan kita tidak akan mau haseperti itu terjadi. Selain itu, hutan juga berfungsi untuk menjaga tanah dari erosi yang dapat menghilangkan kesuburan tanah dan untuk mencegah terjadinya tanah longsor. 

Pertumbuhan penduduk yang tinggi memang menyebabkan bertambahnya kompleksitas permasalahan lingkungan hidup di muka bumi ini. Perilaku konsumsi, pola produksi, dan distribusi sumber daya alam antar negara selalu berubah, sedangkan kualitas dan kuantitas lingkungan sebagai penyangga kehidupan manusia juga cenderung menurun. Secara teknis, masalah lingkungan yang krusial bagi kehidupan manusia adalah hal-hal yang terkait dengan pangan, energi, dan air.

Sebagai negara berkembang, Indonesia mengalami persoalan-persoalan terkait dengan pangan, energi, dan air, bahkan persoalan tersebut seringkali dikaitkan dengan isu-isu perubahan iklim dan pemanasan global.

Pengaruh-pengaruh isu global seringkali mendominasi cara berpikir pembuat kebijakan untuk menangani berbagai masalah lingkungan di Indonesia. Jika dicermati lebih jauh, Indonesia memiliki potensi produksi pangan beragam dengan dukungan sumber daya lahan yang luas. Contohnya, kita memiliki lahan hutan produksi yang potensial sebagai lumbung pangan seluas ± 56 juta hektar (Kemenhut 2012). Apabila setengah dari luasan tersebut dapat dikembangkan menjadi kawasan agroforestry, maka diperkirakan akan mampu memproduksi minimal 560 juta ton pangan dari berbagai komoditi seperti padi ladang, jagung, ubi kayu, sagu, dan lain sebagainya.

Kekhawatiran krisis air juga bertentangan dengan kenyataan potensi sumber daya air di Indonesia. Pada umumnya, wilayah Indonesia memiliki cadangan air tawar 6 % dari cadangan dunia atau sekitar 21 % dari cadangan air di wilayah Asia Pasifik.

Ketersediaan air di Indonesia sangat tinggi karena tingginya curah hujan dan potensi ketersediaan air permukaan dan air bawah tanah (Kementerian Lingkungan Hidup 2010). Dengan potensi yang besar tersebut seharusnya Indonesia tidak sulit memenuhi kebutuhan air masa datang. Bappenas (2010) menghitung air permukaan sebesar 2,746,564 x106 m3/tahun dan air tanah sebesar 4,700 x106 m3/th, sehingga total sebesar 2,751.264 x 106 m3/tahun atau 691,341 x106 m3/tahun total air yang diperhitungkan dan rata-rata ketersediaan air adalah 3,138.6 m3/tahun/kapita. Itu artinya bahwa rata-rata potensi konsumsi air masyarakat Indonesia lebih dari dua kali rata-rata konsumsi dunia, yang tentunya dapat melebihi rata-rata konsumsi air negara maju.

Sumber daya energi Indonesia juga sangat beragam dan cadangan energi yang paling banyak tersedia adalah energi bahan bakar non-fosil. Apabila kita menggunakan rencana aksi konsumsi energi Indonesia yang dikeluarkan Bappenas (2010), diperkirakan konsumsi energi kita tahun 2025 baru mencapai 12 setara barrel minyak/kapita/tahun. Perkiraan tersebut dapat dianggap sebagai sebuah perkiraan yang underestimated.

Perhitungan sederhana, hutan produksi dapat dimanfaatkan secara lestari menghasilkan produksi kayu bulat sekitar 94 juta m3 dengan daur 35 tahun. Karena rendemen kayu yang cukup besar pada saat penebangan dan pengolahan di sawmill, kayu bulat sebanyak itu dapat diprediksi mampu menghasilkan 1.5 milyar setara barel minyak pada tahun 2025 dengan asumsi hanya 50 % sisa kayu dari sawmill yang kita olah menjadi pelet kayu. Artinya, dengan pemanfaatan teknologi pelet kayu maka konsumsi energi Indonesia dapat ditingkatkan menjadi 18 setara barrel minyak/kapita/tahun. Hasil yang lebih signifikan dapat kita capai bila sumber energi dari air, panas bumi, gelombang laut, dan energi baru terbarukan lainnya dapat dioptimalkan.

Fakta tersebut di atas merupakan argumentasi yang dapat mementahkan kekhawatiran krisis pangan, energi, dan air di Indonesia dari sudut pandang kuantitas sumber daya yang dimiliki. Eksploitasi sumber daya alam tentunya akan memberikan dampak negatif dari sisi kualitas sumber daya alam itu sendiri. Kita seringkali menemukan fakta menurunnya kualitas air danau, kualitas udara di perkotaan, pencemaran tanah akibat penggunaan bahan kimia di lahan pertanian, dan sebagainya. Besaran dampak tersebut sangat tergantung pada pola dan perilaku konsumsi, produksi, dan distribusi sumber daya alam yang dilakukan. Pada sisi inilah dominansi paradigma sustainable development menjadi sebuah pilihan.

Sebenarnya, masalah-masalah lingkungan di Indonesia adalah masalah-masalah yang berkaitan dengan masalah-masalah kebijakan, antara lain: apa orientasi kebijakan itu sendiri, bagaimana prinsip keadilan dijalankan, sudahkah hukum ditegakkan, dan mampukah kebijakan lingkungan mengendalikan dinamika perilaku konsumsi, produksi, dan distribusi sumber daya alam.

Banyak kita temui instrumen kebijakan seperti peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup tidak sesuai dengan rentang manajemen sumber daya alam itu sendiri, mulai dari perencanaan, kelembagaan, pelaksanaan, sampai pengendaliannya. Contoh paling nyata adalah penyusunan Analisis mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). AMDAL dapat dinilai gagal dalam mendorong perilaku usaha yang ramah lingkungan karena ternyata banyak juga usahawan yang tidak mempedomani AMDAL dalam manajemen usahanya. Bahkan AMDAL telah dijadikan sebagai alat legitimasi usaha-usaha yang memiliki potensi konflik sosial yang tinggi.

Masalah-masalah kebijakan lingkungan sudah muncul pada saat perumusan kebijakan itu sendiri. Sidney (2007:79) menyatakan bahwa perumusan kebijakan merupakan tahapan penting dalam proses kebijakan karena proses ini juga mengekspresikan dan mengalokasikan kekuasaan diantara kepentingan sosial, politik, dan ekonomi yang ada. Perumusan kebijakan di Indonesia seringkali didominasi oleh kepentingan politik yang menganut paham kapitalisme ekonomi.

Kinerja kelembagaan pengelolaan lingkungan hidup juga menjadi persoalan. Selama ini, pengelolaan lingkungan hidup mulai dari perencanaan sampai pengendalian lebih didominasi oleh birokrat pemerintah. IDS (2006:13) menyatakan bahwa birokrat bukanlah eksekutor kebijakan yang netral karena mereka memiliki agenda politik sendiri.

Dengan demikian, wajar bila kita sering melihat terjadinya benturan kepentingan pengelolaan sumber daya alam antara pemerintah dan masyarakat. Pada sisi yang lain, korporasi pun memiliki kepentingan sendiri yang cenderung melawan arus kepentingan masyarakat, sehingga kekuatan pemerintah dan korporasi seringkali berupaya merusak sistem sosial masyarakat agar dapat menguasai sumber daya alam.

Orientasi perumusan kebijakan yang memihak dan bersifat top down serta kelembagaan yang tumpul menyebabkan implementasi kebijakan lingkungan hidup di Indonesia masih “jauh panggang dari api”. Sebagai contoh, pembangunan wilayah perkotaan telah menciptakan masyarakat perkotaan yang konsumtif sehingga produk-produk impor menjadi merajalela. Akibatnya, kebijakan penggunaan produk lokal menjadi kebijakan “lip service” bernuansa ”nasionalisme semu”. Contoh lain, masyarakat Mentawai yang terkena tsunami baru bisa mendapatkan rumah yang layak pada areal relokasi dalam kawasan hutan setelah 2 tahun kejadian bencana alam tersebut. Hal ini disebabkan pemerintah setempat tidak berani mengambil kebijakan mendasar karena implementasi kebijakan kehutanan yang bersifat top down. Seperti yang diungkapkan oleh Pülzl dan Treib (2007:94), karakter proses implementasi kebijakan yang bersifat top down selalu membutuhkan panduan secara hirarki. Artinya, selama pedoman dari pemerintah pusat belum ada maka tindakan operasional belum dapat diambil, meskipun dalam kondisi bencana alam sekalipun.

Ketika perencanaan, kelembagaan, dan implementasi kebijakan lingkungan mengandung banyak kepentingan maka upaya pengendalian (termasuk penegakan hukum) juga menurut kepentingan yang dominan. Seringkali kasus-kasus pencemaran air sungai terbukti menyebabkan gangguan kesehatan pada masyarakat sekitarnya, namun seringkali juga penegakan hukum baru berjalan ketika gangguan kesehatan itu sudah semakin akut. Di Indonesia, penegak hukum tidak mampu menegakkan aturan karena ternyata usaha-usaha di bidang pertambangan banyak yang dibekingi oleh penegak hukum itu sendiri.

Masalah lingkungan semakin lama semakin besar, meluas, dan serius. Ibarat bola salju yang menggelinding, semakin lama semakin besar. Persoalannya bukan hanya bersifat lokal atau translokal, tetapi regional, nasional, trans-nasional, dan global. Dampak-dampak yang terjadi terhadap lingkungan tidak hanya berkait pada satu atau dua segi saja, tetapi kait mengait sesuai dengan sifat lingkungan yang memiliki multi mata rantai relasi yang saling mempengaruhi secara subsistem. Apabila satu aspek dari lingkungan terkena masalah, maka berbagai aspek lainnya akan mengalami dampak atau akibat pula.

Pada mulanya masalah lingkungan hidup merupakan masalah alami, yakni peristiwa-peristiwa yang terjadi sebagai bagian dari proses natural. Proses natural ini terjadi tanpa menimbulkan akibat yang berarti bagi tata lingkungan itu sendiri dan dapat pulih kemudian secara alami (homeostasi).

Akan tetapi, sekarang masalah lingkungan tidak lagi dapat dikatakan sebagai masalah yang semata-mata bersifat alami, karena manusia memberikan faktor penyebab yang sangat signifikan secara variabel bagi peristiwa-peristiwa lingkungan. Tidak bisa disangkal bahwa masalah-masalah lingkungan yang lahir dan berkembang karena faktor manusia jauh lebih besar dan rumit (complicated) dibandingkan dengan faktor alam itu sendiri. Manusia dengan berbagai dimensinya, terutama dengan faktor mobilitas pertumbuhannya, akal pikiran dengan segala perkembangan aspek-aspek kebudayaannya, dan begitu juga dengan faktor proses masa atau zaman yang mengubah karakter dan pandangan manusia, merupakan faktor yang lebih tepat dikaitkan kepada masalah-masalah lingkungan hidup.

Oleh karena itu, persoalan-persoalan lingkunganm seperti krusakan sumber-daya alam, penyusutan cadangan-cadangan hutan, musnahnya berbagai spesies hayati, erosi, banjir, bahkan jenis-jenis penyakit yang berkembang terakhir ini, diyakini merupakan gejala-gejala negatif yang secara dominan bersumber dari faktor manusia itu sendiri. jadi, beralasan jika dikatakan, di mana ada masalah lingkungan maka di situ ada manusia.

Terhadap masalah-masalah lingkungan seperti pencemaran, banjir, tanah longsor, gaga! panen karena harna, kekeringan, punahnya berbagai spesies binatang langka, lahan menjadi tandus, gajah dan harimau mengganggu perkampungan penduduk, dan lain-lainnya, dalam rangka sistem pencegahan (preventive) dan penanggulangan (repressive) yang dilakukan untuk itu, tidak akan efektif jika hanya ditangani dengan paradigma fisik, ilmu pengetahuan dan teknologi, atau ekonomi. Tetapi karena faktor tadi, paradigma solusinya harus pula melibatkan semua aspek humanistis. Maka dalam hal ini, peran ilmu-ilrnu humaniora seperti sosiologi, antropologi, psikologi, hukum, kesehatan, religi, etologi, dan sebagainya sangat strategis dalam pendekatan persoalan lingkungan hidup.

Pesan Pemerintah

Tema Peringatan Lingkungan Hidup  adalah raise your voice, not the sea level”. Di indonesia disesuaikan menjadi “satukan langkah, lindungi ekosistem pesisir dari dampak perubahan iklim”. 

Tema ini sangat relevan, karena selain sebagai negara kepulauan dengan 13.466 pulau, dan dengan panjang pesisir 95.181 km, tempat bermukim 60 % penduduk dan menyumbang 6,45 % gdp nasional.  

Selain itu pesisir mempunyai potensi sda yang sangat menakjubkan yaitu 14 % terumbu karang dunia, 27 % mangrove dunia, serta                 25 %  ikan dunia, dengan berbagai biota yang hidup didalamnya.  

Bahkan disebut, sebagai marine mega-biodiversity terbesar di dunia, karena memiliki 8.500 species ikan, 555 species rumput laut dan 950 species biota terumbu karang.

Mneurut Menteri Lingkungan Hidup RI Prof. Dr. Balthasar kambuaya, MBA potensi yang besar tersebut harus dikelola secara optimal bagi kemakmuran rakyat dengan cara yang lestari, serta terus dilindungi dari kerusakan lingkungan yang menyebabkan penurunan potensinya.

Salah satu penyebab kerusakan lingkungan yang perlu diantisipasi adalah perubahan iklim. Perubahan iklim akibat pemanasan global memberi berbagai dampak terhadap kehidupan  di muka bumi, kondisi ini ditandai dengan meningkatnya frekuensi hujan dengan instensitas yang sangat tinggi, ketidakpastian musim hujan maupun kemarau, dan munculnya berbagai bencana seperti kekeringan, badai, banjir dan longsor.  

Pada wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil,  dampak yang timbul berupa badai, banjir dan kenaikan permukaan air laut.

Pada sektor pertanian, akibat kekeringan, banjir dan perubahan pola hujan, menyebabkan penurunan 2 % produksi pertanian pada dekade ini. Pada sektor perikanan akibat perubahan keseimbangan unsur kimia di lautan, menyebabkan berbagai ikan di daerah tropis mengalami kematian.

Dalam mengatasi perubahan iklim, pemerintah telah menetapkan kebijakan berupa penurunan emisi dari kondisi business as usual pada tahun 2020 sebesar 26 %, dengan usaha sendiri dan 41 % dengan dukungan negara lain.  

Untuk itu, perlu dikembangkan berbagai kebijakan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, antara lain, melalui peraturan presiden nomor: 61 tahun 2011 tentang rencana aksi nasional penurunan gas rumah kaca, serta peraturan presiden nomor: 71 tahun 2011 tentang penyelenggaran inventarisasi gas rumah kaca nasional, yang seiring dengan uu nomor: 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. 

 

Apabila saat ini, masih ditemukan berbagai bencana ekologis disekitar kita, maka hal itu disebabkan oleh pemanfaatan sumberdaya alam yang tidak berwawasan lingkungan hidup. 

Oleh karenanya, kata Menteri,  perlu dilakukan koreksi mendalam agar pengelolaan dan pemanfaatannya dapat mensejahterakan masyarakat dan tidak menimbulkan bencana.   

Konsep pembangunan berkelanjutan yang merupakan keseimbangan, antara pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan hidup, merupakan satu-satunya pilihan yang wajib kita wujudkan.

Adalah sangat tepat, ketika pemerintah mencanangkan  strategi kebijakan pro job, pro poor, pro growth, dan pro environment, karena pertumbuhan ekonomi semata, tanpa memperhatikan aspek pelestarian fungsi lingkungan dan manusia didalamnya, ternyata telah mengakibatkan timbulnya kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup. 

Pergeseran paradigma mulai berkembang dimana konsep “ekonomi hijau” (green economy)” dan pembangunan rendah karbon, sudah berada dalam kisaran arus utama pembangunan.  

Dalam dokumen “the future we want” yang dihasilkan pada konferensi rio+20, agenda ekonomi hijau telah menjadi pilihan utama.  

Perubahan paradigma ekonomi hijau tersebut, direspon oleh indonesia melalui berbagai inisiatif dan aturan perundang-undangan.  Undang-undang nomor: 32 tahun 2009, telah memberikan ruang yang cukup luas, untuk mengembangkan ekonomi hijau, melalui instrumen-instrumen ekonomi lingkungan. 

Selain komitmen pemerintah, keterlibatan semua pemangku kepentingan adalah kunci keberhasilannya.  

Perwujudan kerja sama yang harmonis dan proporsional, antara pemerintah, swasta dan masyarakat merupakan pilar penting dalam pembangunan lingkungan hidup. 

 Pemerintah dituntut, menyusun program pro rakyat serta memfasilitasi kebutuhan rakyat tetapi dilain pihak masyarakat dibutuhkan keterlibatannya, dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Masyarakat perlu didorong, melakukan upaya-upaya sederhana menuju budaya ramah lingkungan (green lifestyle), seperti menghemat penggunaan listrik dan air, menanam dan memelihara pohon, mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, serta menerapkan konsep 3 r (reduce, reuse dan recycle) dalam mengelola sampah. 

 

            Peringatan hari lingkungan hidup tahun 2014 ini, memang menjadi refleksi  bagi pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup secara lebih konsisten, dengan komitmen yang lebih tinggi.  

Sumber daya alam yang kita miliki perlu dikelola untuk masyarakat, dengan tidak hanya mempertimbangkan generasi masa kini, tetapi juga generasi yang akan datang. Pengelolaan lingkungan hidup mendorong pemanfaatan sda secara arif. 

Dan untuk itu, Menteri mengingatkan bahwa sesuai tema hari lingkungan hidup tahun ini, maka perhatian terhadap kerusakan, serta dampak perubahan iklim terhadap ekosistem pesisir menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Kesamaan pandang dan langkah, antara pemerintah dan pemerintah daerah, perlu lebih ditingkatkan, demikian halnya dengan keterlibatan masyarakat dan dunia swasta.  

Kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup, serta pengelolaan sda yang tidak berkelanjutan, dapat mengganggu ketahanan lingkungan hidup, yang pada akhirnya akan mengancam peri kehidupan masyarakat.  

Ketahanan lingkungan hidup adalah kunci untuk menjaga jasa ekosistem dan menghindari dari bencana lingkungan, khususnya dampak perubahan iklim.  

Ketahanan lingkungan, meliputi upaya pemulihan/perbaikan lingkungan, dan pengelolaan sumberdaya, dengan mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lingkungannya, sehingga tercapai stabilitas ekonomi dan sosial, secara berkelanjutan. 

MLH berharap dengan komitmen dan kerjasama, agar meningkatkan kualitas lingkungan hidup indonesia, temasuk wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. 

Semoga peringan lingkugan hidup tahun ini menjadi sarana refleksi dan kontemplasi berbagai pihak untuk merawat dan menjaga lingkungan kita tetap hijau dan bersahabat dengan alam.

Pemerintah Provinsi Kalimantan sudah berupaya keras mewujudkan pengelolaan lingkungan hidup secara baik, baik melalui program yang ada Dinas Kehutanan, Badan Lingkungan Hidup,  Pertambangan Energi Kalsel dan stakeholder terkait.  Memang masih banyak problem lingkungan yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah.  (muhari)

 

 

 

Rajab Bersatunya Hati Pemerintah dan Masyarakat

RAJAB, BERSATUNYA HATI PEMERINTAH DAN MASYARAKAT
Oleh Muhari (penulis Staf Biro Humas Setda Prov Kalsel-praktisi humas / radio)

  • Pendahuluan

Rajab adalah salah satu bulan yang sangat istimewa bagi Umat Islam. Selain di dalam bulan Rajab terjadi peristiwa bersejarah, juga dijadikan media untuk memaknai isra mi'raj. Pada momen Rajab ini, menjadi media terbaik bagi umat untuk bersilaturrahmi dan merekatkan persaudaraan. Disana, umat dapat menyatukan hati dan bersepakat menjalin persatuan dengan memperindah diri melalui amal shaleh yang terinspirasi dari hakikat peristiwa isra mi'raj.
Begitu pentingnya bulan Rajab, pemerintah pun memberi penanggalan merah setiap tanggal 27 Rajab, sebagai penghormatan terhadap umat Islam Indonesia untuk menyelami pesan – pesan kebaikan dari sebuah perjalanan Nabi dalam satu malam.
Perjalanan Nabi dari satu tempat suci ke tempat suci lainnya, mengisyaratkan tentang pentingnya melakukan wisata hati ketempat suci untuk menundukkan hati dari segala keangkuhan dan egoisme pribadi. Perjalanan itu juga dipahami sebagai wasilah untuk menjalankan aktifitas dengan sentuhan kemurnian hati yang terpaut dengan bisikan-bisikan kebaikan Tuhan.
Rajab, yang kaya dengan ruh kebaikan itu, juga menjadi ladang efektif bagi Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan untuk membangun spritualitas umat dalam menghantarkan masyarakat relijius menjadi kuat dan berkualitas.
Gubernur Kalimantan Selatan memanfaatkan Rajab sebagai bulan silaturrahim dan dialog. Masyarakat dan pemimpinnya akan semakin akrab dan tanpa jarak setiap kali momen keagamaan digelar.
Untuk memanfaatkan Rajab sebagai bulan ritual – sakral, Gubernur tak jarang memenuhi undangan masyarakat untuk memperingati Isra Mi'raj sepanjang tidak ada agenda kegiatan. Rajab benar-benar menjadi fasilitas yang diberikan Allah untuk menyatukan hati antara masyarakat dan pemimpinnya. Pada bulan ini, Gubernur dapat berbicara soal pembangunan dan kemajuan daerah dengan dukungan masyarakat. Topik pembicaraan, selalu diarahkan bagaimana masyarakat mengerti soal program pemerintah, wabil khusus soal pembangunan bidang keagamaan.
Kendati kita sudah berpisah dengan Rajab, catatan penting yang menggores dalam hati dan pikiran tetap membawa makna tersendiri bagi sebuah relasi hati antara pemerintah dan masyarakat. Disinilah penulis, mencoba membuat unek-unek soal bagaimana Rajab menjadi lem perekat terhadap hubungan yang harmonis.

  • Makna dan Keistimewaan Perjalanan

Dalam penanggalan Hijriyah, bulan Rajab adalah bulan ke- 7. Beberapa pesan dan keisitmewaan bulan Rajab diantaranya:
1. Memuliakanlah bulan Rajab, niscaya Allah memuliakan kamu dengan seribu kemuliaan di hari Qiamat.
2. Kelebihan bulan Rajab dari segala bulan ialah seperti kelebihan Al-Quran keatas semua kalam (perkataan).
3. Puasa sehari dalam bulan Rajab seumpama puasa empat puluh tahun dan diberi minum air dari syurga.
4. Bulan Rajab Syahrullah (bulan Allah), diampunkan dosa orang-orang yang meminta ampun dan bertaubat kepada-Nya. Puasa dalam bulan Rajab, wajib bagi yang ber puasa itua.Diampunkan dosa-dosanya yang lalu. Dipelihara Allah umurnya yang tinggal.Terlepas daripada dahaga di akhirat.
5. Puasa pada awal Rajab, pertengahannya dan pada akhirnya, seperti puasa sebulan pahalanya.
6. Siapa bersedekah dalam bulan Rajab, seperti bersedekah seribu dinar,dituliskan kepadanya pada setiap helai bulu roma jasadnya seribu kebajikan, diangkat seribu derjat, dihapus seribu kejahatan – "Dan barang siapa berpuasa pada tgl 27 Rajab/ Isra Mi'raj akan mendapat pahala seperti 5 tahun berpuasa."
7. Bulan Rajab bulan Allah, bulan Sya'ban bulanku, dan bulan Ramadhan bulan umatku.
8. Kemuliaan Rajab dengan malam Isra' Mi'rajnya, Sya'ban dengan malam nisfunya dan Ramadhan dengan Lailatul-Qadarnya.
9. Puasa sehari dalam bulan Rajab mendapat syurga yang tertinggi (Firdaus), sedangkan puasa dua hari dilipatgandakan pahalanya.
10. Puasa 3 hari pada bulan Rajab, dijadikan parit yang panjang yang menghalangnya ke neraka (panjangnya setahun perjalanan).
11. Puasa 7 hari pada bulan Rajab, ditutup dari padanya 7 pintu neraka.
12. Puasa 16 hari pada bulan Rajab akan dapat melihat wajah Allah di dalam syurga, dan menjadi orang yang pertama menziarahi Allah dalam syurga.
13. Bulan Rajab merupakan salah satu bulan Asyhurul Hurum, sebuah bulan yang dimuliakan selain Dzulqa'dah, Dzulhijjah dan Muharram. Puasa dalam bulan Rajab sebagaimana bulan mulia lain, hukumnya adalah sunnah. Diriwayatkan dari mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah SAW bersabda, "Puasalah pada bulan-bulan haram (mulia)." (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad).
14. Banyak sekali keistimewaan yang diperoleh apabila kita mau menunaikan puasa Rajab, Salah Satunya ". Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa berpuasa pada bulan Rajab sehari maka laksana ia puasa selama sebulan, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya 7 pintu neraka jahanam. Bila puasa 8 hari maka dibukakan untuknya 8 pintu surga. Dan bila puasa 10 hari maka Allah akan mengabulkan semua permintaannya." HR. At-Thabrani

  • Esensi Isra Mi'raj

Isra Mi'raj adalah salah satu peristiwa yang paling bersejarah dan monumental dalam perjalanan kenabian Rasulullah SAW. Isra' Mi'raj merupakan bagian dari transformasi spiritual tetapi juga transformasi sosial. Transformasi spiritual mengajarkan untuk senantiasa taat, tunduk, dan patuh kepada apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang oleh Tuhan Yang maha Kuasa.
Dan transformasi sosial, mengajak umat untuk senantiasa melakukan perubahan; dari kesalahan menuju kesalehan; dari jalan gelap menuju terang; dan dari keterbelakangan menuju kemajuan.
Esensi peringatan Isra' Mi'raj adalah membangun dan mengembangkan peradaban Islam--Islamic civilization. Peradaban Islam yang mengedepankan perdamaian, keadilan, keseimbangan, toleransi, dan persamaan. Semuanya itu bertumpu pada konsep "rahmatan lil alamin". Islam yang membawa rahmat bagi semesta alam.
Esensi Isra' Mi'raj juga juga meningkatkan solidaritas umat dalam menjaga dan memelihara harmoni dalam kehidupan, serta kehidupan yang harmonis dan serasi dalam kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan yang majemuk.
Peristiwa Isra' Mi'raj yang dijalani oleh Nabi Muhammad SAW—dalam perjalanan malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidhratul Muntaha—merupakan salah satu peristiwa penting dalam perjalanan sejarah Rasulullah dan umat Islam, sebuah peristiwa yang sarat dengan nilai-nilai imaniah, kemuliaan jiwa, dan kesucian rohani. Dan peristiwa tersebut telah membawa Nabi Muhammad SAW pada kesempurnaan derajat sebagai insan pari-purna.
Ada dua pesan penting Isra' Mi'ra. Pertama, mengenang perjuangan Nabi Muhammad dalam menyebarkan ajaran Islam, utamanya dalam menegakkan shalat; dan kedua, meneladani perjuangannya yang amat berat untuk membangun umat, bangsa, dan negara melalui transformasi spiritual dan transformasi sosial. Tugas kita adalah membangun komitmen dan kesadaran untuk mencontoh dan meneladani apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW.
Nilai dan pelajaran yang dapat di petik dari perjuangan Rasulullah SAW dalam mengatasi ujian dan cobaan yang maha berat adalah dengan sabar, tegar, tawakal, dan tetap bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

  • Fungsi Pemerintah

Pemerintah daerah merupakan daerah otonom yang dapat menjalankan urusan pemerintahan dengan seluas-luasnya serta mendapat hak untuk mengatur kewenangan pemerintahan kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintahan pusat.
Dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah pasal 1 ayat 2, berbunyi "Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintahan daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi yang seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945".
Dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan, khususnya pemerintahan daerah, sangat bertalian erat dengan beberpa asas dalam pemerintahan suatu negara, yakni asas sentralisasi, asas sentralisasi, asas desentralisasi, asas desentralisasi, asas dekonsentrasi, asas dekonsentrasi asas tugas pembantuan.
Ide desentralisasi yang terwujud dalam konsep otonomi daerah sangat terkait dengan konsep pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu dalam desentralisasi terdapat 3 (tiga) dimensi utama, yaitu:
1. Dimensi ekonomi, rakyat memperoleh kesempatan dan kebebasan untuk mengembangkan kegiatan ekonominya sehingga mereka secara relatif melepaskan ketergantungannya terhadap bentuk-bentuk intervensi pemerintah, termasuk didalamnya mengembangkan paradigma pembangunan yang berorientasi pada ekonomi kerakyatan. Dalam konteks ini, eksploitasi sumber daya dilakukan untuk kepentingan masyarakat luas, dilakukan oleh masyarakat lokal;
2. Dimensi politik, yakni berdayanya masyarakat secara politik, yaitu ketergantungan organisasi-organisasi rakyat dari pemerintah;
3. Dimensi psikologis, yakni perasaan individu yang terakumulasi menjadi perasaan kolektif (bersama) bahwa kebebasan menentukan nasib sendiri menjadi sebuah keniscayaan demokrasi. Tidak ada perasaan bahwa "orang pusat" lebih hebat dari "orang daerah" dan sebaliknya.

Fungsi desentralisasi sebenarnya mengurangi atau menghilangkan penumpukan kekuasaan (concentration of power) pada satu pihak saja, yakni Pemerintah Pusat. Dan dengan desentralisasi diharapkan terjadi distribusi kekuasaan (distribution of power) maupun transfer kekuasaan (transfer of power) dan terciptannya pelayanan masyarakat (public services) yang efektif, efisien dan ekonomis serta terwujudnya pemerintahan yang demokratis (democratic government) sebagai model pemerintahan modern serta menghindari lahirnya pemerintahan sentralistik yang sebenarnya sudah tidak populer. Pemerintahan sentralistik menjadi tidak popular karena tidak mampu memahami dan menterjemahkan secara cepat dan tepat nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang di daerah, serta kurangnya pemahaman terhadap sentiment lokal. Salah satu alasan karena warga masyarakat merasa lebih aman dan tentram dengan badan pemerintah lokal yang lebih mengetahui keinginan, aspirasi dan kepentingan masyarakat daerah, serta lebih baik secara fisik dan juga secara psikologis.
Desentralisasi diselenggarakan untuk mewakili kepentingan nasional. Desentralisasi diselenggarakan untuk mewakili kepentingan masyarakat setempat (lokal) di daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mengingat masyarakat tiap masyarakat lokal memiliki keunikan masing-masing, dengan demikian hanya cocok jika instrumen desentralisasi diterapkan.
Desentralisasi menurut berbagai pakar memiliki segi positif, diantaranya : secara ekonomi, meningkatkan efisiensi dalam penyediaan jasa dan barang publik yang dibutuhkan masyarakat setempat, megurangi biaya, meningkatkan output dan lebih efektif dalam penggunaan sumber daya manusia. Secara politis, desentralisasi dianggap memperkuat akuntabilitas, political skills dan integrasi nasional. Desentralisasi lebih mendekatkan pemerintah dengan masyarakatnya, memberikan/menyediakan layanan lebih baik, mengembangkan kebebasan, persamaan dan kesejahteraan.
Untuk mewujudkan kesejahteraan, kreatifitas program dan pendekatan kepada masyarakat sangat penting dalam memuluskan tujuan pembangunan. Semisal program bidang keagamaan, merupakan pemberdayaan masyarakat yang sangat strategis dalam memuluskan setiap program lainnya.
Fondasi bidang keagamaan, adalah memantapkan pembinaan mental masyarakat sehingga partisipasi publik dalam pembangunan benar-benar terlaksana. Saya kira, jika semua komponen tergugah hati secara bersama-sama mendukung pembangunan maka cita-cita kesejahtraan akan menjadi sebuah realita, bukan mimpi.
Rajab sebagai even keagamaan adalah salah satu pintu masuk bagi pemerintah dalam melaksanakan komunikasi efektif dengan masyarakat melalui pesan pembangunan yang memberdayakan dan mengayomi.
Rajab Menyatukan Hati Gubernur-Masyarakat
Dalam catatan saya, Pemerintah Provinsi sangat fokus memperhatikan kegiatan keagamaan seperti halnya peringatan isra mi'raj. Forum keagamaan ini, dimanfaatkan Gubernur untuk mendekatkan hati bersama masyarakat. Dari hati ke hati, masyarakat dan pemimpinnya dapat berbicara tanpa batas.

Gubernur juga dapat menyentuh hati masyarakat untuk tetap menjaga keutuhan dan kehormanisan hidup dengan memelihara persaudaraan dan stabilitas keamanan dengan baik. Hanya dengan situasi kondusif, maka dipastikan pembangunan dapat berjalan dengan baik. Dan keaamanan kata mantan Bupati Banjar ini, adalah sarat mutlak terealisasinya kesejahtraan rakyat.
Saya kira, momen ini, menjadi ruang komunikasi efektif bagi kepala daerah untuk menyapa masyarakat dengan bahasa verbal dan kemanusiaan. Ajakan dan pesan Gubernur sangat penting untuk membangkitkan etos dan motivasi masyarakat dalam partisipasi pembangunan.
Dan pesan terindah Gubernur setiap momen isra mi'raj adalah pentingnya masyarakat menjaga tiang agama berupa shalat lima waktu. Shalat adalah mi'raj nya umat beriman. Shalat adalah media komunikasi dengan sang Khalik. Melalui shalat, dapat membentuk pribadi yang anggun dan mempesona. Tentu selain shalat, upaya lain adalah bagaimana membersihkan membasuh hati dengan mengikis dosa dan kekhilafan melalui istighfar dan pintu taubat.
Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW adalah media yang paling baik untuk memantapkan kesungguhan kita me mi'raj kan hati, dengan berbuat dan mengabdi kepada Allah SWT, melalui prestasi dan karya terbaik untuk kemajuan banua tercinta. (muhari)

RAJAB, BERSATUNYA HATI PEMERINTAH DAN MASYARAKAT

Oleh Muhari (penulis Staf Biro Humas Setda Prov Kalsel-

praktisi humas / radio)

Pendahuluan

Rajab adalah salah satu bulan yang sangat istimewa bagi Umat Islam. Selain di dalam bulan Rajab terjadi peristiwa bersejarah, juga dijadikan media untuk memaknai isra mi’raj. Pada momen Rajab ini, menjadi media terbaik bagi umat untuk bersilaturrahmi dan merekatkan persaudaraan. Disana, umat dapat menyatukan hati dan bersepakat menjalin persatuan dengan memperindah diri melalui amal shaleh yang terinspirasi dari hakikat peristiwa isra mi’raj.

Begitu pentingnya bulan Rajab, pemerintah pun memberi penanggalan merah setiap tanggal 27 Rajab, sebagai penghormatan terhadap umat Islam Indonesia untuk menyelami pesan – pesan kebaikan dari sebuah perjalanan Nabi dalam satu malam.

Perjalanan Nabi dari satu tempat suci ke tempat suci lainnya, mengisyaratkan tentang pentingnya melakukan wisata hati ketempat suci untuk menundukkan hati dari segala keangkuhan dan egoisme pribadi. Perjalanan itu juga dipahami sebagai wasilah untuk menjalankan aktifitas dengan sentuhan kemurnian hati yang terpaut dengan bisikan-bisikan kebaikan Tuhan.

Rajab, yang kaya dengan ruh kebaikan itu, juga menjadi ladang efektif bagi Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan untuk membangun spritualitas umat dalam menghantarkan masyarakat relijius menjadi kuat dan berkualitas.

Gubernur Kalimantan Selatan memanfaatkan Rajab sebagai bulan silaturrahim dan dialog. Masyarakat dan pemimpinnya akan semakin akrab dan tanpa jarak setiap kali momen keagamaan digelar.

Untuk memanfaatkan Rajab sebagai bulan ritual – sakral, Gubernur tak jarang memenuhi undangan masyarakat untuk memperingati Isra Mi’raj sepanjang tidak ada agenda kegiatan. Rajab benar-benar menjadi fasilitas yang diberikan Allah untuk menyatukan hati antara masyarakat dan pemimpinnya. Pada bulan ini, Gubernur dapat berbicara soal pembangunan dan kemajuan daerah dengan dukungan masyarakat. Topik pembicaraan, selalu diarahkan bagaimana masyarakat mengerti soal program pemerintah, wabil khusus soal pembangunan bidang keagamaan. 

Kendati kita sudah berpisah dengan Rajab, catatan penting yang menggores dalam  hati dan pikiran tetap membawa makna tersendiri bagi sebuah relasi hati antara pemerintah dan masyarakat. Disinilah penulis, mencoba membuat unek-unek soal bagaimana Rajab menjadi lem perekat terhadap hubungan yang harmonis.  

Makna dan Keistimewaan Perjalanan

Dalam penanggalan Hijriyah, bulan Rajab adalah bulan ke- 7. Beberapa pesan dan keisitmewaan bulan Rajab diantaranya:

1.    Memuliakanlah bulan Rajab, niscaya Allah memuliakan kamu dengan seribu kemuliaan di hari Qiamat.

2.    Kelebihan bulan Rajab dari segala bulan ialah seperti kelebihan Al-Quran keatas semua kalam (perkataan).

3.    Puasa sehari dalam bulan Rajab seumpama puasa empat puluh tahun dan diberi minum air dari syurga.

4.    Bulan Rajab Syahrullah (bulan Allah), diampunkan dosa orang-orang yang meminta ampun dan bertaubat kepada-Nya. Puasa dalam bulan Rajab, wajib bagi yang ber puasa itua.Diampunkan dosa-dosanya yang lalu. Dipelihara Allah umurnya yang tinggal.Terlepas daripada dahaga di akhirat.

5.    Puasa pada awal Rajab, pertengahannya dan pada akhirnya, seperti puasa sebulan pahalanya.

6.    Siapa bersedekah dalam bulan Rajab, seperti bersedekah seribu dinar,dituliskan kepadanya pada setiap helai bulu roma jasadnya seribu kebajikan, diangkat seribu derjat, dihapus seribu kejahatan – “Dan barang siapa berpuasa pada tgl 27 Rajab/ Isra Mi’raj akan mendapat pahala seperti 5 tahun berpuasa.”

7.    Bulan Rajab bulan Allah, bulan Sya’ban bulanku, dan bulan Ramadhan bulan umatku.

8.    Kemuliaan Rajab dengan malam Isra’ Mi’rajnya, Sya’ban dengan malam nisfunya dan Ramadhan dengan Lailatul-Qadarnya.

9.    Puasa sehari dalam bulan Rajab mendapat syurga yang tertinggi (Firdaus), sedangkan puasa dua hari dilipatgandakan pahalanya.

10. Puasa 3 hari pada bulan Rajab, dijadikan parit yang panjang yang menghalangnya ke neraka (panjangnya setahun perjalanan).

11. Puasa 7 hari pada bulan Rajab, ditutup dari padanya 7 pintu neraka.

12. Puasa 16 hari pada bulan Rajab akan dapat melihat wajah Allah di dalam syurga, dan menjadi orang yang pertama menziarahi Allah dalam syurga.

13. Bulan Rajab merupakan salah satu bulan Asyhurul Hurum, sebuah bulan yang dimuliakan selain Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Puasa dalam bulan Rajab sebagaimana bulan mulia lain, hukumnya adalah sunnah. Diriwayatkan dari mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah SAW bersabda, “Puasalah pada bulan-bulan haram (mulia).” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad).

14. Banyak sekali keistimewaan yang diperoleh apabila kita mau menunaikan puasa Rajab, Salah Satunya “. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa berpuasa pada bulan Rajab sehari maka laksana ia puasa selama sebulan, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya 7 pintu neraka jahanam. Bila puasa 8 hari maka dibukakan untuknya 8 pintu surga. Dan bila puasa 10 hari maka Allah akan mengabulkan semua permintaannya.” HR. At-Thabrani

Esensi Isra Mi’raj

Isra Mi’raj adalah salah satu peristiwa yang paling bersejarah dan monumental dalam perjalanan kenabian Rasulullah SAW.  Isra’ Mi’raj merupakan bagian dari transformasi spiritual tetapi juga transformasi sosial. Transformasi spiritual mengajarkan untuk senantiasa taat, tunduk, dan patuh kepada apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang oleh Tuhan Yang maha Kuasa.

Dan transformasi sosial, mengajak umat untuk senantiasa melakukan perubahan; dari kesalahan menuju kesalehan; dari jalan gelap menuju terang; dan dari keterbelakangan menuju kemajuan. 

Esensi peringatan Isra’ Mi’raj adalah membangun dan mengembangkan peradaban Islam--Islamic civilization. Peradaban Islam yang mengedepankan perdamaian, keadilan,  keseimbangan, toleransi, dan persamaan. Semuanya itu bertumpu pada konsep ”rahmatan lil alamin”. Islam yang membawa rahmat bagi semesta alam.

Esensi Isra’ Mi’raj juga juga meningkatkan solidaritas umat  dalam menjaga  dan memelihara harmoni dalam kehidupan, serta kehidupan yang harmonis dan serasi dalam kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan yang majemuk. 

Peristiwa Isra’ Mi’raj yang dijalani oleh Nabi Muhammad SAW—dalam perjalanan malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidhratul Muntaha—merupakan salah satu peristiwa penting dalam perjalanan sejarah Rasulullah dan umat Islam, sebuah peristiwa yang sarat dengan nilai-nilai imaniah, kemuliaan jiwa, dan kesucian rohani. Dan peristiwa tersebut telah membawa Nabi Muhammad SAW pada kesempurnaan derajat sebagai insan pari-purna. 

Ada dua pesan penting Isra’ Mi’ra. Pertama, mengenang perjuangan Nabi Muhammad dalam menyebarkan ajaran Islam, utamanya dalam menegakkan shalat; dan kedua, meneladani perjuangannya yang amat berat untuk membangun umat, bangsa,  dan negara melalui transformasi spiritual dan transformasi sosial. Tugas kita adalah membangun komitmen dan kesadaran untuk mencontoh dan meneladani apa yang telah  dilakukan oleh Rasulullah SAW.  

Nilai dan pelajaran yang dapat di petik dari perjuangan Rasulullah SAW dalam mengatasi ujian dan cobaan yang maha berat adalah dengan sabar, tegar, tawakal, dan tetap bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Fungsi Pemerintah

Pemerintah daerah merupakan daerah otonom yang dapat menjalankan urusan pemerintahan dengan seluas-luasnya serta mendapat hak untuk mengatur kewenangan pemerintahan kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintahan pusat.

Dalam  UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah pasal 1 ayat 2, berbunyi “Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintahan daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi yang seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”.

Dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan, khususnya pemerintahan daerah, sangat bertalian erat dengan beberpa asas dalam pemerintahan suatu negara, yakni  asas sentralisasi, asas sentralisasi, asas desentralisasi, asas desentralisasi, asas dekonsentrasi, asas dekonsentrasi asas tugas pembantuan.

Ide desentralisasi yang terwujud dalam konsep otonomi daerah sangat terkait dengan konsep pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu dalam desentralisasi terdapat 3 (tiga) dimensi utama, yaitu:

1.     Dimensi ekonomi, rakyat memperoleh kesempatan dan kebebasan untuk mengembangkan kegiatan ekonominya sehingga mereka secara relatif melepaskan ketergantungannya terhadap bentuk-bentuk intervensi pemerintah, termasuk didalamnya mengembangkan paradigma pembangunan yang berorientasi pada ekonomi kerakyatan. Dalam konteks ini, eksploitasi sumber daya dilakukan untuk kepentingan masyarakat luas, dilakukan oleh masyarakat lokal;

2.     Dimensi politik, yakni berdayanya masyarakat secara politik, yaitu ketergantungan organisasi-organisasi rakyat dari pemerintah;

3.     Dimensi psikologis, yakni perasaan individu yang terakumulasi menjadi perasaan kolektif (bersama) bahwa kebebasan menentukan nasib sendiri menjadi sebuah keniscayaan demokrasi.  Tidak ada perasaan bahwa “orang pusat” lebih hebat dari “orang daerah” dan sebaliknya.

Fungsi desentralisasi sebenarnya mengurangi atau menghilangkan penumpukan kekuasaan (concentration of power) pada satu pihak saja, yakni Pemerintah Pusat. Dan dengan desentralisasi diharapkan terjadi distribusi kekuasaan (distribution of power) maupun transfer kekuasaan (transfer of power) dan terciptannya pelayanan masyarakat (public services) yang efektif, efisien dan ekonomis serta terwujudnya pemerintahan yang demokratis (democratic government) sebagai model pemerintahan modern serta menghindari lahirnya pemerintahan sentralistik yang sebenarnya sudah tidak populer. Pemerintahan sentralistik menjadi tidak popular karena tidak mampu memahami dan menterjemahkan secara cepat dan tepat nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang di daerah, serta kurangnya pemahaman terhadap sentiment lokal. Salah satu alasan karena warga masyarakat merasa lebih aman dan tentram dengan badan pemerintah lokal yang lebih mengetahui keinginan, aspirasi dan kepentingan masyarakat daerah, serta lebih baik secara fisik dan juga secara psikologis.

Desentralisasi diselenggarakan untuk mewakili kepentingan nasional. Desentralisasi diselenggarakan untuk mewakili kepentingan masyarakat setempat (lokal) di daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mengingat masyarakat tiap masyarakat lokal memiliki keunikan masing-masing, dengan demikian hanya cocok jika instrumen desentralisasi diterapkan.

Desentralisasi menurut berbagai pakar memiliki segi positif, diantaranya : secara ekonomi, meningkatkan efisiensi dalam penyediaan jasa dan barang publik yang dibutuhkan masyarakat setempat, megurangi biaya, meningkatkan output dan lebih efektif dalam penggunaan sumber daya manusia. Secara politis, desentralisasi dianggap memperkuat akuntabilitas, political skills dan integrasi nasional. Desentralisasi lebih mendekatkan pemerintah dengan masyarakatnya, memberikan/menyediakan layanan lebih baik, mengembangkan kebebasan, persamaan dan kesejahteraan.

Untuk mewujudkan kesejahteraan, kreatifitas program dan pendekatan kepada masyarakat sangat penting dalam memuluskan tujuan pembangunan. Semisal program bidang keagamaan, merupakan pemberdayaan masyarakat yang sangat strategis dalam memuluskan setiap program lainnya.

Fondasi bidang keagamaan, adalah memantapkan pembinaan mental masyarakat sehingga partisipasi publik dalam pembangunan benar-benar terlaksana. Saya kira, jika semua komponen tergugah hati secara bersama-sama mendukung pembangunan maka cita-cita kesejahtraan akan menjadi sebuah realita, bukan mimpi.  

Rajab sebagai even keagamaan adalah salah satu pintu masuk bagi  pemerintah dalam melaksanakan komunikasi efektif dengan masyarakat melalui pesan pembangunan yang memberdayakan dan mengayomi.

Rajab Menyatukan Hati Gubernur-Masyarakat

          Dalam catatan saya, Pemerintah Provinsi sangat fokus memperhatikan kegiatan keagamaan seperti halnya peringatan isra mi’raj. Forum keagamaan ini, dimanfaatkan Gubernur untuk mendekatkan hati bersama masyarakat. Dari hati ke hati, masyarakat dan pemimpinnya dapat berbicara tanpa batas. 

          Gubernur juga dapat menyentuh hati masyarakat untuk tetap menjaga keutuhan dan kehormanisan hidup dengan memelihara persaudaraan dan stabilitas keamanan dengan baik. Hanya dengan situasi kondusif, maka dipastikan pembangunan dapat berjalan dengan baik. Dan keaamanan kata mantan Bupati Banjar ini, adalah sarat mutlak terealisasinya kesejahtraan rakyat.

          Saya kira, momen ini, menjadi ruang komunikasi efektif bagi kepala daerah untuk menyapa masyarakat dengan bahasa verbal dan kemanusiaan. Ajakan dan pesan Gubernur sangat penting untuk membangkitkan etos dan motivasi  masyarakat dalam partisipasi pembangunan.

          Dan pesan terindah Gubernur setiap momen isra mi’raj adalah pentingnya masyarakat menjaga tiang agama berupa shalat lima waktu. Shalat adalah mi’raj nya umat beriman. Shalat adalah media komunikasi dengan sang Khalik. Melalui shalat, dapat membentuk pribadi yang anggun dan mempesona. Tentu selain shalat, upaya lain adalah bagaimana membersihkan membasuh hati dengan mengikis dosa dan kekhilafan melalui istighfar dan pintu taubat.

          Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW adalah media yang paling baik untuk memantapkan kesungguhan kita me mi’raj kan hati,  dengan berbuat dan mengabdi kepada Allah SWT, melalui prestasi dan karya terbaik untuk kemajuan banua tercinta.  (muhari)

                   

 

Islam dan Kemajuan Teknologi Komunikasi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kemajuan sains dan teknologi telah memberikan kemudahan-kemudahan dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua sosok yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ilmu adalah sumber teknologi yang mampu memberikan kemungkinan munculnya berbagai penemuan rekayasa dan ide-ide. Adapun teknologi adalah terapan atau aplikasi dari ilmu yang dapat ditunjukkan dalam hasil nyata yang lebih canggih dan dapat mendorong manusia untuk berkembang lebih maju lagi. Sebagai umat Islam kita harus menyadari bahwa dasar-dasar filosofis untuk mengembangkan ilmu dan teknologi itu bisa dikaji dan digali dalam Al-quran, sebab kitab suci ini banyak mengupas keterangan-keterangan mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dari keterangan itu jelas sekali bahwa manusia dituntut untuk berbuat sesuatu dengan sarana teknologi. Sehingga tidak mengherankan jika abad ke-7 M telah banyak lahir pemikir Islam yang tangguh produktif dan inovatif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi sangat disayangkan bahwa kemajuan-kemajuan itu tidak sempat ditindaklanjuti dengan sebaik-baiknya sehingga tanpa sadar umat Islam akhirnya melepaskan kepeloporannya. Lalu bangsa Barat dengan mudah mengambil dan mentransfer ilmu dan teknologi yang dimiliki dunia Islam dan dengan mudah pula mereka membelenggu para pemikir Islam sehingga sampai saat ini bangsa Baratlah yang menjadi pelopor dan pengendali ilmu pengetahuan dan teknologi.

B. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi topik pada makalah ini adalah sekilas persoalan Pendidikan Islam dan teknologi komunikasi-informasi, yang menyangkut penjabaran secara teoritis kedua aspek pembahasan, serta bagaimana korelasi keduanya dalam konteks hubungan yang mutualisme; dan membangun pendidikan Islam yang berbasis teknologi komunikasi, sebagai sebuah tawaran dalam upaya membangun pendidikan Islam dengan memposisikan teknologi sebagai bagian dari aspek penting dalam pendidikan.

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas study field dengan dengan topik Islam dan Kemajuan Teknologi Komunikasi, dalam makalah ini lebih menitik beratkan kepada sekilas persoalan yang telah dipaparkan di rumusan masalah, pembahasan mengenai pendidikan Islam dan teknologi komunikasi-informasi.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Teori Komunikasi Islam
Komunikasi Islam merupakan bentuk frasa dan pemikiran yang baru muncul dalam penelitian akademik sekitar tiga dekade belakangan ini. Munculnya pemikiran dan aktivisme komunikasi Islam didasarkan pada kegagalan falsafah, paradigma dan pelaksanaan komunikasi Barat yang lebih mengoptimalkan nilai-nilai pragmatis, materialistis serta penggunaan media secara kapitalis. Kegagalan tersebut menimbulkan implikasi negatif terutama terhadap komunitas Muslim di seluruh penjuru dunia akibat perbedaan agama, budaya dan gaya hidup dari negara-negara (Barat) yang menjadi produsen ilmu tersebut.
Ilmu komunikasi Islam yang hangat diperbincangkan akhir-akhir ini terutama menyangkut teori dan prinsip-prinsip komunikasi Islam, serta pendekatan Islam tentang komunikasi. Titik penting munculnya aktivisme dan pemikiran mengenai komunikasi Islam ditandai dengan terbitnya jurnal "Media, Culture and Society" pada bulan Januari 1993 di London. Ini semakin menunjukkan jati diri komunikasi Islam yang tengah mendapat perhatian dan sorotan masyarakat tidak saja di belahan negara berpenduduk Muslim tetapi juga di negara-negara Barat. Isu-isu yang dikembangkan dalam jurnal tersebut menyangkut Islam dan komunikasi yang meliputi perspektif Islam terhadap media, pemanfaatan media massa pada era pascamodern, kedudukan dan perjalanan media massa di negara Muslim serta perspektif politik terhadap Islam dan komunikasi.
Komunikasi Islam berfokus pada teori-teori komunikasi yang dikembangkan oleh para pemikir Muslim. Tujuan akhirnya adalah menjadikan komunikasi Islam sebagai komunikasi alternatif, terutama dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang bersesuaian dengan fitrah penciptaan manusia. Kesesuaian nilai-nilai komunikasi dengan dimensi penciptaan fitrah kemanusiaan itu memberi manfaat terhadap kesejahteraan manusia sejagat. Sehingga dalam perspektif ini, komunikasi Islam merupakan proses penyampaian atau tukar menukar informasi yang menggunakan prinsip dan kaedah komunikasi dalam Alquran. Komunikasi Islam dengan demikian dapat didefenisikan sebagai proses penyampaian nilai-nilai Islam dari komunikator kepada komunikan dengan menggunakan prinsip-prinsip komunikasi yang sesuai dengan Alquran dan Hadis.\
Dalam Islam, prinsip informasi bukan merupakan hak eksklusif dan bahan komoditi yang bersifat value-free, tetapi ia memiliki norma-norma, etika dan moral imperatif yang bertujuan sebagai service membangun kualitas manusia secara paripurna. Jadi Islam meletakkan inspirasi tauhid sebagai parameter pengembangan teori komunikasi dan informasi. Alquran menyediakan seperangkat aturan dalam prinsip dan tata berkomunikasi.
Dalam masalah ketelitian menerima informasi, Alquran misalnya memerintahkan untuk melakukan check and recheck terhadap informasi yang diterima. Dalam surah al-Hujurat ayat 6 dikatakan:
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

B. Pendidikan Islam
Proses pendidikan Islam merupakan rangkaian usaha membimbing, mengarahkan, potensi hidup manusia yang berupa kemampuan – kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sehingga terjadilah perubahan dalam kehidupan pribadinya sebagai makhluk individual, dan sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitar dimana nilai- nilai Islam, yaitu nilai – nulai yang melahirkan norma-norma syariah dan akhlak karimah.
Tujuan kependidikan Islam adalah merupakan penggambaran nilai-nilai Islami yang hendak diwujudkan dalam pribadi manusia, dengan istilah lain tujuan pendidikan Islam perwujudan nilai-nilai Islami dalam diri manusia didik. Jadi kesanalah pendidikan Islam seharusnya diarahkan, agar pendidikan Islam tidak hanyut terbawa arus modernisasi dan kemajuan IPTEK.

BAB III
PEMBAHASAN

1. Pendidikan Islam dan Sistem Teknologi Komunikasi
Di antara pembahasan pendidikan Islam yang sering diperbincangkan adalah persoalan pemaknaan pendidikan, tujuan, kurikulum dan metodologi. Terkait dengan persoalan pendidikan Islam dan teknologi komunikasi, maka hal yang perlu ditekankan dalam tulisan ini adalah berkenaan dengan rumusan konsep dan tujuan pendidikan Islam, sebagai substansi penting yang dapat mengarahkan orientasi pendidikan Islam itu sendiri. Berkenaan dengan hal ini, banyak tawaran yang telah digagas oleh para pakar pendidikan, baik melalui konsep yang sederhana sampai pada rumusan yang ideal.
Pendidikan (education) dalam sudut pandang manusia dapat dinyatakan sebagai proses sosialisasi, yakni untuk memasyarakatkan nilai-nilai, ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam kehidupan. Sedangkan dari sudut pandang individu, pendidikan merupakan proses perkembangan, yakni perkembangan potensi yang dimiliki secara maksimal dan diwujudkan dalam bentuk konkret, dalam arti kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dan berguna untuk kehidupan manusia di masa akan datang.
Secara khusus pendidikan Islam, Hasan Langgulung mendefinisikan pendidikan Islam adalah suatu proses spiritual, akhlak, intelektual dan sosial yang berusaha membimbing manusia dan memberinya nilai-nilai, prinsip- prinsip dan teladan ideal dalam kehidupan yang bertujuan mempersiapkan kehidupan dunia akhirat. Ahmad D. Marimba mengartikan pendidikan, atau secara khusus pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran
Islam. Kepribadian utama menurut ukuran Islam disebut kepribadian Muslim, yaitu kepribadian yang memiliki nilai- nilai agama Islam dan bertanggungjawab sesuai dengan nilai-nilai Islam. Ali Ashraf menyatakan bahwa pendidikan Islam seharusnya bertujuan menimbulkan pertumbuhan yang seimbang dari kepribadian total manusia melalui latihan spiritual, intelektual, rasional diri, perasaan, dan kepekaan tubuh manusia. Tujuan akhir pendidikan Muslim adalah perwujudan penyerahan mutlak kepada Allah, pada tingkat individu, masyarakat, dan kemanusiaan pada umumnya.
Dari beberapa definisi di atas dapatlah difahami bahwa:
hakikat pendidikan Islam pada prinsipnya adalah proses dan usaha membina serta mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Dengan terbinanya seluruh potensi mereka secara sempurna diharapkan dapat melaksanakan fungsi pengabdiannya sebagai khalifah di muka bumi. Atas dasar ini, M. Quraish Shihab sebagaimana dikutip Ahmad Arifi berpendapat, bahwa tujuan pendidikan al-Qur'an (Islam) adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba dan khalifah-Nya, guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah.
Dari beberapa rumusan yang dikemukakan oleh para ahli tersebut di atas, maka dapat diketahui bahwa tujuan pendidikan Islam memiliki ciri-ciri, sebagai berikut: 1) mengarahkan manusia agar menjadi khalifah Tuhan di muka bumi dengan sebaik-baiknya, yaitu melaksanakan tugas memakmurkan dan mengolah bumi sesuai dengan kehendak Tuhan; 2) Mengarahkan manusia agar seluruh pelaksanaan tugas kekhalifahannya di muka bumi dilaksanakan dalam rangka beribadah kepada Allah swt, sehingga tugas tersebut terasa ringan dilaksanakan; 3) mengarahkan manusia agar berkahlak mulia, sehingga ia tidak menyalahgunakan fungsi kehalifahannya; 4) membina dan mengarahkan potensi akal, jiwa, dan jasmaninya, sehingga ia memiliki ilmu, akhlak, dan keterampilan yang semuanya dapat digunakan untuk mendukung tugas pengabdian dan kekhalifahannya; 5) mengarahkan manusia agar dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Dalam kaitan ini, secara lebih khusus al-Syaibani merumuskan tujuan pendidikan Islam, sebagai berikut: 1) tujuan yang berkaitan dengan individu yang mencakup perubahan berupa pengetahuan, tingkah laku, jasmani dan rohani, dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki untuk hidup di dunia dan akhirat; 2) tujuan yang berkaitan dengan masyarakat yang mencakup tingkah laku individu dalam masyarakat, perubahan hidup di masyarakat, serta memperkaya pengalaman masyarakat; 3) tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, seni, profesi dan sebagainya.
Dengan demikian, pada dasarnya secara konsep dan tujuan bahwa pendidikan Islam berupaya untuk mengarahkan manusia untuk menjadi sosok yang memiliki kekuatan dalam setiap aspek potensi yang dimilikinya, sehingga kekuatannya tidak hanya terletak pada unsur akal, tetapi juga unsur ruhani yang dapat mengarahkannya keselamatan. Namun demikian, pengoptimalan akal dan jasad lewat dan pengembangan ilmu pengetahuan termasuk teknologi adalah bagian dari hal penting yang perlu diperhatikan.

2. Sistem Teknologi Komunikasi
Secara etimologi, istilah "teknologi" dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Inggris technology. Dalam Kamus Ilmiah, teknologi berarti penerapan ilmu atau suatu kumpulan ilmu pengetahuan yang praktis dan erat hubungannya dengan enjinering atau rekayasa, perindustrian dan sebagainya. Menurut Leksikon sebagaimana dikutip Abdul Mukti, technology adalah scientific study, yang memiliki pengertian: 1) kajian, telaah, penelitian yang sistematis, dan ilmiah. Dengan kata lain, teknologi adalah "ilmu" dalam pengertiannya yang luas; 2) teknologi adalah mechanical arts, yakni alat-alat mekanis (mesin); 3) teknologi berarti applied science, yaitu ilmu-ilmu terapan atau ilmu-ilmu praktis; 4) teknologi berarti application of this to practical task (aplikasi dari ilmu dan alat-alat untuk kepentingan atau pekerjaan harian).
Amin Haedari, dkk, mengartikan teknologi sebagai semua perwujudan alam yang direkayasa oleh manusia, sehingga tidak lagi "alami" seperti yang telah disajikan kepada manusia oleh sang pencipta. Perwujudan ini bisa terkait dengan bidang transportasi seperti kendaraan bermotor atau mobil, bidang pertanian seperti bibit tanaman unggul, bidang kesehatan seperti obat antibiotika, atau di bidang lainnya, termasuk teknologi di bidang komunikasi dan informasi seperti telepon seluler, camera digital, komputer, jaringan internet, dan sebagainya.
Dari definisi di atas, mengisyaratkan beberapa hal penting, di antaranya adalah: pertama, teknologi adalah ilmu tentang cara menerapkan sains; kedua, teknologi bersumber atau berkaitan erat dengan alam semesta; ketiga, tujuan penciptaan dan penerapan teknologi adalah untuk kenyamanan manusia. Dengan demikian, secara prinsip teknologi tidak dapat dipisahkan dari alam dan manusia. Karena pada dasarnya, teknologi diciptakan untuk "melayani" dan memudahkan kehidupan manusia.
Sedangkan sistem komunikasi, atau biasa juga disebut dengan sistem informasi, adalah suatu organisasi atau penyampaian berita, ketentuan atau pengetahuan dalam komunikan tertentu. Dengan kata lain, sistem komunikasi atau informasi merupakan suatu proses penyebaran informasi sehingga informasi tersebut menjadi milik bersama. Oleh karena itu, sistem informasi dan komunikasi pada hakikatnya mengandung makna pendidikan, karena pemilikan bersama suatu norma, ketentuan berita atau pengetahuan tertentu hanya terjadi jika ada proses interaksi.
Pada masyarakat informasi, peranan media elektronika sangat memegang peranan penting dan bahkan menentukan corak kehidupan. Penggunaan teknologi elektronika seperti televisi (antena digital), komputer, faksimile, internet, dan lain-lain, telah mengubah lingkungan informasi dari lingkungan yang bercorak lokal dan nasional, kepada lingkungan yang bersifat internasional, mendunia, dan global. Pada era informasi, lewat komunikasi satelit dan komputer, orang memasuki lingkungan informasi dunia. Komputer bukan saja sanggup menyimpan informasi dari seluruh dunia, melainkan juga sanggup mengolahnya dan menghasilkannya secara lisan, tulisan, bahkan visual.
Singkatnya, sarana teknologi komunikasi-informasi yang berkembang psat sampai saat ini, memiliki sistem kerja dengan ciri kecanggihannya.
Namun perlu untuk diperhatikan, peran media elektronik yang demikian besar telah menggeser agen-agen sosialisasi yang berlangsung secara tradisional, seperti yang dilakukan oleh orang tua, guru, pemerintah, dan sebagainya. Komputer telah menjadi teman bermain, orang tua yang akrab, guru yang memberikan pesan, juga sewaktu-waktu dapat memberikan jawaban segera terhadap pertanyaan- pertanyaan eksitensial dan mendasar. Kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi-informasi tersebut, pada akhirnya memberikan pengaruh pada kejiwaan dan kepribadian masyarakat. Menurut Abuddin Nata, pada era informasi yang sanggup bertahan hanyalah mereka yang berorientasi ke depan, yang mampu mengubah pengetahuan menjadi kebijakan, dan ciri-ciri lain sebagaimana dimiliki masyarakat modern.
Dari keadaan ini, semua masyarakat suatu bangsa dengan bangsa lain menjadi satu, baik dalam bidang sosial, budaya, ekonomi, dan sebagainya. Hal ini pada satu sisi ada baiknya dan banyak manfaatnya, yakni terjadinya pertukaran budaya, informasi, dan ilmu pengetahuan, sehingga dapat meningkatkan kualitas masing-masing. Namun di sisi lain, keterbukaan seperti ini juga memberikan dampak negatif yang tidak kecil, sehingga perlu kecermatan dalam menyeleksi informasi atau budaya.

3. Hubungan Mutualisme Pendidikan Islam dan Teknologi Komunikasi
Pendidikan Islam yang memiliki tugas pokok menggali, menganalisis dan mengembangkan serta mengamalkan ajaran Islam yang bersumberkan al-Qur'an dan al-Hadits, pada dasarnya telah cukup memperoleh bimbingan dan arahan dari kedua sumber pokok tersebut, yakni mulai dari proses memahami terhadap hal-hal yang bersifat metafisik sampai dengan kemampuan hidup yang rasionalistik, analitik, sintetik dan logik terhadap kekuatan alam sekitar. Hal ini menyadarkan manusia akan fungsinya sebagai "khalifah" di muka bumi yang akomodatif terhadap lingkungannya. Dengan demikian, pada dasarnya sumber ajaran Islam seperti Al-Qur'an, sebenarnya sangat fleksibel serta responsif terhadap tuntutan hidup manusia yang makin maju dan modern dalam segala bidang kehidupan, termasuk bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informasi yang saat ini begitu pesat perkembangannya.
Secara embrionik, dorongan al-Qur'an terhadap pengembangan rasio untuk pemantapan iman dan takwa yang diperkokoh melalui ilmu pengetahuan manusia adalah merupakan ciri khas Islami, yang membedakannya dengan kitab suci agama lain. Al-Qur'an sebagai sumber pedoman hidup manusia telah memberikan wawasan dasar terhadap masa depan hidup manusia dengan rentangan akal pikirannya yang mendalam dan meluas sampai pada penemuan ilmu dan teknologi yang secanggih-canggihnya. Maka dari itu, al-Qur'an menegaskan 300 kali perintah untuk menfungsikan rasio (akal) manusia, dan 780 kali mengukuhkan pentingnya ilmu pengetahuan. Di antara ayat- ayat yang mendorong dan merangsang akal pikiran untuk berilmu pengetahuan dan teknologi, di antaranya QS. Ar- Rahman [55]: 1-33 tentang kelautan dan ruang angkasa; al- An'am [6]: 79 tentang eksplorasi benda-benda ruang angkasa dengan akal pikiran oleh Nabi Ibrahim untuk menemukan Tuhan yang hak; serta QS. Saba' [34]: 10-13 tentang pengolahan dan pemanfaatan besi dan tembaga sebagai bahan teknologi bangunan-bangunan kolosal; QS. Al-Mulk [67]: 19, secara simbolis Allah juga telah menjabarkan berbagai model teknologi pembuatan kapal terbang dengan meniru pola atau rancang bangun struktur burung di angkasa, serta banyak lagi ayat yang lainnya.
Beberapa ayat di atas, dapat menjadikan al-Qur'an sebagai sumber motivasi dalam rangka mengembangkan pendidikan Islam yang berbasis pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk rekayasa teknologi. Karena al-Qur'an telah secara jelas memberikan dorongan kepada manusia agar melakukan analisis dan perlu berupaya untuk mengembangkan ilmu dan teknologi, agar bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Dengan demikian, maka pendidikan Islam dengan sumber utamanya al-Qur'an, dapat dikembangkan menjadi agent of technologically and culturally motivating reousrces dalam berbagai model yang mampu mendobrak pola pikir tradisional yang pada dasarnya dogmatis, kurang dinamis dan berkembang secara bebas. Karena secara prinsip, nilai- nilai Islam tidak mengekang atau membelenggu pola pikir manusia dalam arena pemikiran rasionalistik dan analitik yang diperlukan dalam proses pengembangan ilmu pengetahuan. Relevan dengan hal tersebut, maka dalam hal ini kemampuan berijtihad dalam segala bidang ilmu pengetahuan perlu dikembangkan secara terus-menerus. Hal yang paling penting adalah bagaimana menumbuhkembangkan ide-ide dan konsep-konsep keilmiahan yang bersumberkan al-Qur'an ke dalam pelaksanaan pendidikan yang secara fungsional dapat mengacu ke dalam perkembangan masyarakat yang semakin dinamis.
Jika dikaitkan antara pendidikan Islam dan IPTEK, maka pada dasarnya keduanya saling menguatkan. Pendidikan Islam yang berangkat dari sumber ajaran agama (Islam), sudah tentu tidak dapat melepaskan diri dari realitas kehidupan sosial manusia yang terus berkembang. Sedangkan Ilmu pengetahuan dan teknologi, secara khusus teknologi komunikasi atau informasi, merupakan di antara konsekuensi yang timbul dari adanya perubahan kehidupan sosial manusia, yang saat ini telah menjalani era globalisasi dengan segala dinamikanya.
Kehadiran teknologi komunikasi, harus diakui memberikan pengaruh yang besar bagi dunia pendidikan Islam. Menurut Marwah Daud Ibrahim, potensi perubahan sosial yang mendasar dari skala makro yang terjadi dalam masyarakat sebagai akibat dari kemajuan teknologi dan komunikasi di antaranya adalah: 1) dengan kemajuan teknologi, komunikasi manusia kian kosmopolit. Dengan kata lain, akan membuat orang lebih terbuka dan dapat menerima perubahan yang baik. Hal ini memungkinkan tiap- tiap orang bisa menerima cara pandang berbeda dari budaya yang berbeda; 2) dengan kemajuan teknologi komunikasi diharapkan dapat menumbuhkan semangat ukhuwah Islamiyah dan solidaritas sosial menjadi semakin meningkat; 3) kemajuan teknologi komunikasi diharapkan pada setiap individu memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Asumsi ini didasarkan pada peralatan komunikasi bisa menjadi alat bantu dalam dunia pendidikan, mengajarkan
keterampilan dan sebagainya. Dari ketiga unsur ini diharapkan, pemanfaatan teknologi komunikasi akan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam rangka mengembangkan sumber daya manusia yang dimiliki, termasuk dalam pendidikan Islam.
Akan tetapi, hal lain yang perlu diperhatikan dari adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi adalah dampak yang ditimbulkan dapat memunculkan cognitive dissonance (ketidak selarasan pikiran), terutama di kalangan generasi muda dan anak-anak. Maksudnya, sumber nilai atau panutan menjadi tidak tunggal atau menjadi beraneka ragam. Jika dahulu keluarga, sekolah dan tempat tempat-tempat ibadah merupakan institusi yang mengintroduksi nilai kepada anak-anak dan remaja atau pemuda, maka kini media massa juga menawarkan nilai- nilai tersendiri. Jika nilai yang diberikan oleh media tersebut sejalan dengan apa yang didapatkan pada institusi, maka akan didapati hasil yang maksimal. Tetapi jika apa yang disampaikan oleh media malah bertentangan atau bahkan menyimpang dari nilai yang ada atau seharusnya dari institusi pendidikan, maka akan dapat mengakibatkan anak- anak dan generasi muda dilanda kebingungan atau mengalami dekadensi moral dan akhlak. Hal ini akan berpengaruh lebih kuat dan dominan pada perilaku sosialnya.
Selain itu, banyaknya muatan informasi yang dating dari segala arah tentu saja tidak semuanya sesuai dengan norma atau nilai yang berlaku bagi masyarakat Indonesia, secara khusus umat Islam. Karena pada kenyataannya, walaupun dengan kemajuan teknologi komunikasi-informasi banyak memberikan manfaat dan kemudahan bagi kehidupan manusia, tetapi sifat materialistis dan cenderung mengabaikan nilai-nilai moral di dalamnya, perlu menjadi warning khusus bagi pendidikan Islam untuk mengarahkannya secara lebih bermakna.
Dengan demikian, pada prinsipnya kemajuan teknologi komunikasi tidaklah bertentangan dengan pendidikan Islam, justru sebenarnya sangat membantu dalam meningkatkan kualitas peserta didiknya. Akan tetapi, pendidikan Islam seharusnya dapat selalu di arahkan agar tidak hanyut terbawa arus modernisasi dan kemajuan teknologi komunikasi. Untuk itu, perlu adanya strategi yang mampu mengintegrasikan antara keduanya agar saling melengkapi dan menjadi perpaduan yang dapat mengangkat kualitas pendidikan Islam sesuai dengan tuntutan realita kehidupan.

BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Manusia adalah makhluk yang unik. Ia tahu bahwa ia tahu dan ia tahu bahwa ia tidak tahu. Ia mengenal dunia sekelilingnya dan lebih dari itu ia mengenal dirinya sendiri. Manusia memiliki akal budi, rasa, karsa, dan daya cipta yang digunakan untuk memahami eksistensinya, dari mana sesungguhnya ia berasal, dimana berada dan akan kemana perginya. Pertanyaan-pertanyaan selalu muncul, akan tetapi pertanyaan itu belum pernah berhasil dijawab secara tuntas. Manusia tetap saja diliputi ketidaktahuan. Demikianlah sesungguhnya manusia, siapa saja, eksis dalam suasana yang diliputi dengan pertanyaan–pertanyaan. Manusia eksis di dalam dan pada dunia filsafat dan filsafat hidup subur di dalam aktualisasi manusia.
Berdasarkan rasa, karsa dan daya cipta yang dimilikinya manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) termasuk didalamnya adalah teknologi komunikasi dan teknologi informasi. Namun, perkembangan teknologi yang luar biasa menyebabkan manusia "lupa diri". Manusia menjadi individual, egoistik dan eksploitatif, baik terhadap diri sendiri, sesamanya, masyarakatnya, alam lingkungannya, bahkan terhadap Tuhan Sang Penciptanya sendiri. Karena itulah filsafat ilmu pengetahuan dihadirkan ditengah-tengah keaneka ragaman IPTEK untuk meluruskan jalan dan menepatkan fungsinya bagi hidup dan kehidupan manusia di dunia ini.
Kemajuan sains dan teknologi telah memberikan kemudahan-kemudahan dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia sekaligus merupakan sarana bagi kesempurnaan manusia sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya. Allah telah mengaruniakan anugerah kenikmatan kepada manusia yang bersifat saling melengkapi yaitu anugerah agama dan kenikmatan sains teknologi.
Agama dan Ilmu pengetahuan-teknologi merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ilmu adalah sumber teknologi yang mampu memberikan kemungkinan munculnya berbagai penemuan rekayasa dan ide-ide. Adapun teknologi adalah terapan atau aplikasi dari ilmu yang dapat ditunjukkan dalam hasil nyata yang lebih canggih dan dapat mendorong manusia untuk berkembang lebih maju lagi. Namun, terlepas dari semua itu, perkembangan teknologi tidak boleh melepaskan diri dari nilai-nilai agama Islam. Sebagaimana adigum yang dibangun oleh Fisikawan besar, Albert Einstin yang menyatakan: "Agama tanpa ilmu akan pincang, sedangkan ilmu tanpa agama akan Buta".
Untuk menghindari efek atau dampak dari perkembangan teknologi komunikasi dan teknologi informasi, sebagai umat Islam yang bijak dan taat pada aturan ajaran agamanya, hendaknya berawal dari diri sendiri dalam menyikapi terpaan perkembangan teknologi komunikasi dan teknologi informasi. Pergunakanlah manfaat yang postifnya apabila dampak dari perkembangan teknologi komunikasi dan teknologi informasi itu bisa bermanfaat dalam kehidupan umat Islam. Dan Jauhilah atau buanglah manfaat negatifnya apabila dampak dari perkembangan teknologi komunikasi dan teknologi informasi itu cenderung bersifat menjerumuskan kedalam kebathilan. Dikarenakan agama Islam tidak menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga tidak anti terhadap barang-barang produk teknologi baik di zaman lampau di masa sekarang, maupun di waktu-waktu yang kan datang. Demikian pula dengan ajaran Islam, yang tidak akan bertentangan dengan teori-teori pemikiran modern yang teratur dan lurus, serta analisa-analisa yang teliti dan obyekitf. Dalam pandangan Islam menurut hukum asalnya segala sesuatu itu adalah mubah termasuk segala apa yang disajikan oleh berbagai peradaban baik yang lama ataupun yang baru. Semua itu sebagaimana diajarkan oleh Islam tidak ada yang hukumnya haram, kecuali jika terdapat nash atau dalil yang tegas dan pasti mengherankannya.

Saran
Pengembangan pendidikan Islam berbasis IPTEK haruslah sesuai dengan identitas al-Qur'an dan sunnah Nabi yang berorientasi kepada hubungan tiga arah, yakni: pertama, berorientasi ke arah Tuhan pencipta alam semesta; kedua, berorientasi ke arah hubungan dengan sesama manusia; ketiga, berorientasi ke arah bagaimana pola hubungan manusia dengan alam sekitarnya, termasuk dirinya sendiri harus dikembangkan. Dalam hal ini, orientasi hubungan alam sekitar dan diri manusia sendiri menjadi dasar pengembangan ilmu dan teknologi (komunikasi atau informasi), sedangkan orientasi hubungan dengan Tuhan menjadi dasar pengembangan sikap dedikasi dan moralitas yang menjiwai pengembangan ilmu dan teknologi, dan orientasi hubungan sesama manusia menjadi dasar pengembangan hidup bermasyarakat yang berpolakan atas kesinambungan, keserasian, serta keselarasan dengan nilai-nilai moralitas yang dapat memberikan kesejahteraan.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Muzzayin. 2008. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

Ashraf, Ali. 1993. Horison Baru Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka
Firdaus.

Assegaf, Abd. Rachman. 2004. "Membangun Format Pendidikan Islam di Era Globalisasi", dalam Imam Machali dan Musthofa (ed), Pendidikan Islam dan Tantangan Globalisasi (Buah Pikiran Seputar Filsafat, Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya. Yogyakarta: Ar-Ruuz Media.

A. Mughni, Syafiq. 2001. Nilai-nilai Islam (Perumusan Ajaran dan
Upaya Aktualisasi). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fuad, Moch. 2004. "Pendidikan Islam dan Tantangan Globalisasi (Perspektif Sosial Budaya)", dalam Imam Machali dan Musthofa (ed), Pendidikan Islam dan Tantangan Globalisasi (Buah Pikiran Seputar Filsafat, Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya. Yogyakarta: Ar-Ruuz Media.

Haedari, HM. Amin, dkk. 2004. Masa Depan Pesantren (Dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Kompleksitas). Jakarta: IRD Press.

Hawi, Akmal. 2005. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Palembang: IAIN Raden Fatah.

Idi, Abdullah dan Suharto, Toto. 2006. Revitalisasi Pendidikan
Islam. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Langgulung, Hasan. 1993. Asas-asas Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka al-Husna.

La Ode, Sismono, dkk. 2006. Biografi Pemikiran dan Kepemimpinan Prof. Suyanto, Ph. D (Di Belantara Pendidikan Bermoral). Yogyakarta: UNY Press,

Mukti, Abdul. 2001. "Pendidikan Agama dalam Masyarakat Teknokratik", dalam Ismail SM, Nurul Huda, Abdul Kholiq (ed), Paradigma Pendidikan Islam. Semarang: Pustaka Pelajar.

Nata, Abuddin. 2001. Paradigma Pendidikan Islam. Jakarta: Grasindo,
Rosyadi, Khoiron. 2004. Pendidikan Profetik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Saefudin, A. M. 1987. Desekularisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi. Bandung: Mizan.

Tim Prima Pena. 2006. Kamus Ilmiah Populer (Referensi Ilmiah Ideologi, Politik, Hukum, Ekonomi, Sosial, Budaya dan Sains). Surabaya: GitaMedia Press.